Anak Kampung di RRI


                                       

                                     Oleh : La Sirama

DINAMIKASULTRA.COM – Lahir di kampung terpencil pulau Boton, bahkan pernah merasakan suasana pengungsian di hutan pedalaman 1956-1960, akibat kekacauan pasca Pemilu 1955. Karena itu awal bekerja di RRI Kendari 1976, saya masih kampungan. Tdak ada model untuk menjadi pejabat, apalagi Kepala RRI. Hanya takdir Allah lah kemudian bisa berkarier di RRI.

Pengalaman pertama yang menantang bekerja di RRI, ialah ketika meliput Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Sulawesi Tenggara di Bau Bau Kabupaten Buton. Saat itu saya bertugas sendiri untuk melaporkan hasil pertandingan dalam format jurnal setiap malam. Suatu hari saya jatuh sakit, sehingga tidak mampu mengetik naskah laporan. Bersyukur ada petugas Sekretariat Porda, yang mau membantu mengetikan naskahnya, yang saya bacakan sambil berbaring di kursi. Setelah itu, saya dibonceng dengan sepeda motor untuk diantar ke tempat peralatan SSB Pemda, untuk menyampaikan jurnal tersebut. Pada saat yang sama, mobil siaran luar RRI ditempatkan diperwakilan Pemda Buton di Kendari, untuk menerima laporan melalui saluran SSB, dan dipancarluaskan. Kondisi dalam bertugas tersebut, saya tidak beritahukan kepada teman-teman di RRI Kendari hingga Porda selesai dan kembali ke Kendari.

Dari RRI Kendari dengan jabatan terakhir Manajer Seksi Pemberitaan, mendapat promosi sebagai Senior Manajer Divisi Siaran RRI Makassar, Agustus 2003. Selama bertugas di RRI Makassar, tidak ada pengalaman yang spesifik. Untuk itu, saya hanya mencatatkan program siaran yang kami gagas dan cukup unggul, yaitu siaran da’wah “Titian Ilahi” Suksesnya acara ini, berkat dukungan Kepala RRI Makassar saat itu H.Bochri Rachman,SH. yang selalu hadir -bahkan memberikan kata pengantar sebelum penyampaian materi dari narsumber. Da’wah Titian Ihahi dilaksanakan dari masjid ke masjid di Sulawesi Selatan setiap Jum’at ba’da sholat Ashar, dengan memadukan nara sumber dari unsur Ulama dan Umaroh. Jika misalnya topik yang diangkat “Dampak Miras dan Narkoba”, maka nara sumbernya adalah Ustadz dan pejabat BPOM atau BNN.

Setelah pindah tugas sebagai Kepala RRI Bandung, H.Bochri Rachman juga melaksanakan Siaran Da’wah Titian Ilahi di RRI Bandung. Baik di RRI Makassar, maupun di RRI Bnadung, siaran da’wah Titin Ilahi masih berlansung sampai sekarang.

Sebagai acara siaran yang memiliki ratting tertinggi di RRI Makassar saat itu, maka dosen UIN Alauddin Makassar Baharuddin, tertarik untuk melakukan riset menjadi bahan disertasi, dan berhasil dipertahankan dalam ujian promosi doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 2011. Disertasi tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku yang dapat menjadi materi kuliah komunikasi da’wah.

Setelah 3 tahun bertugas Makassar, mendapat promosi sebagai Kepala RRI Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau, Oktober 2006. Disini ada pengalaman menginisiasi kerjasama siaran dengan RTM Johor. Bersama teman-teman Siaran, berangkat ke Johor Bahru untuk mengadakan pertemuan dengan Pimpinan RTM disana, dan sepakat melaksanakan siaran hiburan berjaringan dengan mana : “Titian Serumpun”, yang diudarakan setiap hari Ahad siang, melalui jaringan telepon. Cukup banyak pendengarnya dari warga Indonesia di Johor dan Singapura, maupun warga Johor Bahru Malaysia di Tanjungpinang dan Batam. Selain itu, kami membuat paket siaran dialog pagi dengan nama “Dinamika”. Dialog ini menjadi acara unggulan RRI Tanjungpinang, dan tetap mengudara sampai sekarang. RRI Tanjungpinang, juga pernah menggelar Festival Gurindam-12, yang dihadiri Direktur Utama Parni Hadi serta Direktur Program dan Produksi Niken Widiastuti.

Memanfaatkan kedekatan Tanjungpinang dengan Singapura dan Malaysia, maka ketika ada hari libur beberapa hari, saya mengajak teman-teman karyawan dan pemerhati RRI untuk tour ke Singapura, Johor Baru, Malaka, Kualalumpur hingga ke obyek wisata Genting Highland.

November 2008, saya mendapat tugas baru sebagai Kepala RRI Mataram Nusa Tenggara Barat. Di negeri seribu masjid ini, ada pengalaman spesifik dalam menertibkan asset RRI Mataram berupa tanah/lahan bekas pemancar, yang dikuasai penghuni yang tidak berhak/liar. Kiatnya sederhana. Bersama Kasi Pemberitaan Dedhy Sukardi, kami meminta bantuan Walikota Mataram untuk menegur pimpinan RRI terkait keberadaan rumah dan penguhi dilokasi tersebut. Bermodalkan surat Walikota, kami mengundang semua penghuni untuk menjelaskan isi surat tersebut, sekaligus memberi batas waktu untuk meninggalkan lokasi. Alhamdulilah upaya penertiban lahan tersebut berhasil.

Dibidang siaran, bersama teman-teman menggagas dan memproduksi serial sandiwara “Mutiara diantara Rinjani-Tambora” yang kemudian menjadi acara unggulan. Namun kemudian acara ini dihentikan penyiarannya. Begitu banyak pendengar siaran sandiwara tersebut, maka ketika Gubernur NTB Tuan Guru Zainul Madjdi melakukan kunjungan kerja, masyarakat menanyakan kepada beliau, mengenai alasan RRI menghentikan siaran sandiwara tersebut. Gubernur kemudian menjanjikan, akan memanggil Kepala RRI untuk meminta penjelasan mengenai penghentian siaran sandiwara tersebut.

Satu setengah tahun bertugas di RRI Mataram, kemudian dipindahkan di RRI Gorontalo, Juni 2010. Bertugas di Gorontalo tantangannya berat dan unik. Elit-elit politik provinsi dan kabupaten/kota, bersaing untuk bersiaran di RRI guna merebut simpati masyarakat. Sering terjadi, dalam sehari sampai 3 kali RRI melaksanakan siaran langsung, melayani permintaan – terutama Gubernur saat itu Gusnar Ismail, Walikota Gorontalo Adhan Dambea, dan Bupati Gorontalo Utara Rusli Habibie, sekarang menjadi Gubernur Gorontalo. Ironisnya, dalam sambutan/pembicaraan mereka cenderung saling menyerang, sehingga RRI sebagai radio publik berada pada posisi sulit untuk independen dan netral.

Tetapi di Gorontalo, ada juga yang menarik. Masyarakat sangat gemar mendengar RRI. Untuk memanggil orang, undangan pertemuan, kegiatan arisan dan lainnya, cukup melalui siaran RRI. Untuk membuktikan, RRI Gorontalo bekerjasama lembaga independen, pernah melakukan survey untuk mencari dan menemukan warga masyarakat yang tidak mendengar siaran RRI. Sampelnya antara lain: pekerja Bank, Hotel dan perusaahaan lain serta komunitas-komunitas tertentu, yang diperkirakan tidak mendengar RRI karena kesibukannya. Hasilnya, tidak satu orangpun warga yang tidak mendengar RRI saat itu. Mereka semua mendengarkan siaran RRI Gorontalo, bahkan menyebutkan acara-acara siaran yang digemari dan nama pembawa acaranya.

Satu tahun 3 bulan bertugas di Gorontalo, kemudian dipindahkan ke Satuan Pengawasan Intern (SPI) LPP RRI di Jakarta, September 2011. Lain lubuk lain ikannya, lain tempat bertugas lain pula tantangannya. Bertugas di SPI, tantangannya ialah kurangnya tenaga pemeriksa/auditor, saat itu hanya 9 orang. Tugasnya mengaudit pengelolaan dan pertanggung jawaban Keuangan dan Asset RRI di seluruh Indonesia. Untuk itu, maka segera saya menyampaikan Surat kepada Direktur Utama RRI Niken Widiastuti, meminta izin untuk merekrut tenaga dari RRI di daerah yang memenuhi syarat dan bersedia pindah di SPI. Atas persetujuan Dirut dan dukungan Direktur SDM dan Umum Dadi Sumihardi, maka SPI berhasil mendapat tambahan 14 orang tenaga dari berbagai Satker RRI. Tantangan baru muncul, yaitu tempat tinggal mereka. Maka kemudian saya mengajukan permintaan anggaran untuk membangun Mess Karyawan/Auditor dan berhasil diwujudkan, sehingga masalah teratasi. Secara pribadi, saya patut bersyukur karena dengan penugasan di SPI, dapat mengunjungi hampir semua Stasiun RRI di Indonesia untuk melakukan supervisi pelaksanaan pemeriksaan keuangan dan asset RRI oleh Tim Pemeriksa dari SPI.

Dua tahun bertugas di SPI, dipindahkan lagi ke RRI Banjarmasin Kalimantan Selatan, Agustus 2013. Di negeri seribu sungai ini, yang populer dengan pasar terapungnya, dihadapkan dengan masalah Siaran Musik live di Auditotium yang dilaksanakan malam hari, tetapi lampu remang-remang, bahkan terkesan gelap. Tidak mudah untuk segera menghentikan. Disitu ada aparat, bahkan ada yang bertampang preman dan banyak waria. Saya khawatir jangan sampai ada transaksi barang terlarang seperti narcoba. Kalau saya datang memantau acara itu, ada petugas yang segera menyalakan lampu. Tetapi begitu keluar, lampu langsung dipadamkan lagi. Untuk itu saya segera melaporkan masalahnya kepada Direktur Utama, tembusan Dewan Pengawas. Saya juga mengajukan permintaan anggaran untuk Renovasi Auditorium, sehingga beralasan menghentikan sementara acara yang glamour tersebut.

Ada juga kegiatan yang patut diaparesiasi, antara lain mengikuti pertemuan Pimpinan Radio tiga negara serumpun (RRI-Indonesia, RTM.Malaysia dan RTB.Brunai) di Bandar Sri Begawan Brunai Darussalam. Acara didahului pentas seni budaya bersama yang disebut “Bermukun”. RRI menampilkan kesenian Madihin Banjarmasin, oleh seniman Anang Syahrani. Pertemuan pimpinan Radio tiga serumpun tersebut menyepakati pelaksanaan pentas seni bersama tahun 2015 di Indonesia, dan saya menyatakan bahwa RRI Banjarmasin bersedia menjadi tuan rumah. Walaupun saat pelaksanaannya saya sudah pindah di Makassar, tetapi Pentas Seni Budaya Tiga Serumpun tetap berlangsung di Banjarmasin, masa kepemimpinan Soleman Yusuf dan saya diundang menghadiri.

Acara lain yang sukses ialah Tabliq Akbar dan Haflah Al Qur’an yang dirangkaikan dengan penutupan Pekan Tilawatil Qur’an. Haflah Al Qur’an dilakukan oleh empat Qari/qariah Juara I MTQ Internasional, yaitu Sarini Abdullah dari Gorontalo, Hasan Basri dari Makassar, Maria Ulfa dari Jakarta dan Wahidah Arsyad qariah tuan rumah Banjarmasin.

RRI Banjarmasin, juga melaksanakan Siaran Budaya Berjaringan Audio-Video dengan RRI Yogyakarta. Untuk menghasilkan kualitas video yang baik, kami bekerjasama TVRI. Kalimatan Selatan. Tehnis pelaksanaannya, Warga Banjar di Yogyakarta dihadirkan di Auditorium RRI dan menampilkan seni budaya Banjar, sedangkan warga Jawa di Banjar dihadirkan di Auditorium RRI Banjarmasin dan menampilkan seni budaya Jawa. Presenter RRI Banjarmasin dan RRI Yogyakarta tampil saling bekomunikasi, dan dapat disaksikan dilayar yang dipasang didepan.

Januari 2015 dipindahtugaskan lagi di RRI Makassar. Bertugas kedua kalinya di Makassar, saya manfaatkan untuk melakukan sesuatu yang bermanfat jangka panjang. Maka saya menginisiasi pendirian Studio Penyiaran RRI Bone atas dukungan Anggota DPR-RI asal Sulawesi Selatan Andi Mohammad Galib dan Studio Penyiaran RRI Bau-Bau bekerjasama Kepala RRI Kendari Nawir, S.Sos. Alhamdulillah, setelah mendapat persetujuan Direktur Utama LPP RRI Niken Widiastuti serta Jajaran Direksi dan Dewas, maka pada tanggal 4 April 2015 Studio Penyiaran RRI Bone dan Studio Penyiaran RRI Bau-Bau dapat diresmikan secara bersamaan melalui Siaran Berjaringan. Saat itu yang mewakili Direktur Utama RRI di Bone adalah Direktur LPU. Sudiman Bonaparte, dan di Bau-Bau Anggota Dewan Pengawas RRI Dwi Hernuningsih. Hadir juga saat itu Kepala RRI Samarinda bapak Nurhanuddin, yang kemudian menjadi SDM dan Umum, karena beliau adalah putera daerah kelahiran Bone.

Skenario acaranya dimulai dengan Laporan Kepala RRI Makassar di Bone, kemudian Sambutan Walikota Bau-Bau DR. AS. Thamrin langsung dari Bau-Bau, dilanjutkan Sambutan Bupati Bone Andi Fahsar Pajalangi di Bone. Selanjutnya sambutan Anggota Dewan Pengawas RRI Dwi Hernuningsih dari Bau-Bau, dilanjutkan sambutan Anggota DPR-RI Andi Mohammad Galib dan terakhir sambutan Direktur LPU RRI Sudiman Bonaparte atas nama Direktur Utama RRI. Peresmian ditandai dengan penekanan tombol srine oleh pejabat yang hadir di Bone, dan bunyi srine juga didengarkan oleh semua undangan yang menghadiri peresmian RRI di Bau-Bau.

Oktober 2016, saya mendapat tugas baru sebagai Kepala RRI Jakarta, menggantikan Herman Zuhdi yang pindah tugas sebagai Kepala RRI Semarang. Di RRI Jakarta hanya bertugas satu tahun 3 bulan, dan purnabakti Januari 2018. Tidak banyak yang dapat dikerjakan secara maksimal. Prioritas pertama adalah menertibkan pengeloaan dan pertanggungjawaban keuangan, sehingga mendapat apresiasi dari BPK, dan RRI Jakarta memperoleh penghargaan dari Kementerian Keuangan sebagai salah satu Satker pengelola keuangan terbaik untuk kelompok Kementerian/Lembaga Wilayah DKI – I. Kegiatan lain, memindahkan ruang kerja Kepala RRI Jakarta dari lantai 1 ke lantai 8 sehingga lebih representatif, karena di lantai 1 dibangun Galeri Tri Prasetya. Selain itu, juga merevovasi satu gedung pemancar RRI di Radio Dalam untuk menjadi Rumah Dinas Kepala RRI Jakarta, yang selama berpuluh tahun tidak ada rumah dinas.

Dibidang Siaran RRI Jakarta bekerjasama dengan Badan Pengurus dan Pengelola Masjid Istiqlal Jakarta, melounching “Siaran Da’wah Titian Ilahi”, yang diresmikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, November 2017. Titian Ilahi direncanakan sekali sepekan setiap Jum’at dari masjid ke masjid di Jakarta dan Banten, dan setiap Jum’at pertama dilaksanakan di masjid Istiqlal. Namun kemudian, RRI Jakarta tidak lagi melaksanakan siaran da’wah tersebut.*

Baca Juga !
Tinggalkan komentar