Negara Bagian Victoria Laporkan Kenaikan Terendah Kasus COVID-19

Dengarkan Versi Suara
Kepolisian Negara Bagian Victoria dan ADF berpatroli di sepanjang Jalan Bourke pada saat otoritas kota menerapkan aturan karantina wilayah untuk menghentikan penyebaran wabah virus corona (COVID-19), di Melbourne, Australia, 7 Agustus 2020. (ant)

 

DINAMIKASULTRA.COM,SYDNEY-Negara bagian Victoria di Australia melaporkan kenaikan harian terendah dalam infeksi COVID-19 dalam tujuh pekan pada hari Senin.

Laporan tersebut memunculkan optimisme bahwa gelombang kedua yang mematikan mereda.

Victoria pada hari Senin (24/8) melaporkan 116 kasus dan 15 kematian akibat virus dalam 24 jam terakhir, turun dari puncak lebih dari 700 kasus awal bulan ini.

Australia mengalami lonjakan infeksi dalam sebulan terakhir di Melbourne, ibu kota Victoria dan kota terbesar kedua di negara itu, tetapi kasus-kasus cenderung menurun dalam beberapa hari terakhir dibantu oleh penguncian total.

Sementara penguncian Melbourne telah membatasi penyebaran infeksi.

Namun upaya tersebut telah mendatangkan malapetaka pada ekonomi dengan tingkat pengangguran efektif Australia diperkirakan naik di atas 13 persen pada akhir September, menurut perkiraan pemerintah.

Hampir setengah juta orang bisa kehilangan pekerjaan mereka karena penutupan penuh di Melbourne, Bendahara Josh Frydenberg mengatakan pada hari Minggu.

Negara tetangga Selandia Baru pada hari Senin akan mengambil keputusan apakah akan melonggarkan pembatasan COVID-19 saat ini di kota terbesarnya Auckland.

Kebangkitan COVID-19 yang tiba-tiba sekitar dua minggu lalu di Auckland mendorong Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern untuk mengunci 1,7 juta penduduk kota hingga Rabu, memaksa aktivitas bisnis dan sekolah tutup.

Selandia Baru, yang memiliki populasi 5 juta, sejauh ini mencatat lebih dari 1.300 kasus virus yang dikonfirmasi dan 22 kematian. Australia telah mendeteksi hampir 25.000 infeksi dan melaporkan 502 kematian, dari populasi 25 juta.

Selandia Baru dan Australia telah mencegah kematian tinggi yang dialami oleh banyak negara lain karena tindakan penguncian yang ketat. (ds/ant)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar