Dinamika Pilkada di Buton Utara

Dengarkan Versi Suara

                                                   Oleh : Lasirama

Lasirama (tengah) saat masih aktif menjabat Kepsta RRI  Pusat- Jakarta.

 

Saat ini informasi media sosial banyak diwarnai kontestasi kegiatan sosialisasi calon-calon ‘kepala daerah’ baik untuk jabatan Gubernur maupun Bupati dan  Walikota,  termasuk  beberapa  kabupaten  di Sulawesi Tenggara, salah satunya Kabupaten Buton  Utara.  Hasil verifikasi Komisi Pemilihan Umum/KPU Buton Utara, dari  dukungan  Parpol yang telah mendapat persetujuan pimpinan pusat Parpol, telah ditetapkan tiga kandidat yang lolos untuk bertarung pada Pilkada Buton Utara 2020, kalau tidak ditunda. Ketiga kandidat tersebut adalah : pasangan petahana Abu Hasan/Suhuzu, pasangan Ridwan Zakariah/Ahali dan pasangan Aswadi Adam/Fahrul Muhammad.

Ketiga kandidat calon Bupati/Wakil Bupati Buton Utara ini, tentu masing-masing memiliki peluang untuk menang, walaupun sudah pasti akan ada yang kalah. Tulisan ini bermaksud melakukan analisa politik mengenai peluang keterpilihan masing-masing kandidat, sekaligus juga mencermati faktor-faktor yang kurang menguntungkan para kandidat.

Pertama, kandidat petahana Abu Hasan/Suhuzu. Dalam banyak proses kontestasi Pilkada, petahana biasanya lebih diuntungkan. Pertama, dalam tugas-tugas kedinasan dua tahun menjelang Pilkada, petahana sudah mulai melakukan langkah-langkah strategis untuk menarik simpati konstituen/masyarakat pemilih. Berbagai kegiatan di kondisikan, agar mengesankan bahwa pemerintah sangat peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Tetapi hal seperti ini tergantung kepala daerah, karena mungkin juga ada strategi lain yang dianggap lebih baik. Bahkan ada juga kepala daerah yang cenderung tidak peduli dengan hal seperti itu, melainkan justru menggunakan kesempatan yang tersisa untuk mendapatkan manfaat dari kewenangan dalam kepemimpinannya. Mencermati kondisi ini, sepertinya petahana belum maksimal memanfaatkan peluang ini. Sebagian masyarakat bahkan menunjukkan sikap kurang simpati dengan kepemimpinan beliau.

Masyarakat pemilih yang begitu bersemangat mendukung beliau ketika pertama kali maju sebagai calon Bupati, sekarang banyak yang kecewa. Belum lagi masyarakat yang tidak memilih beliau pada pilkada sebelumnya, tentu akan bertimbang lebih hati-hati untuk menentukan pilihan.

Sementara itu, untuk maju pada Pilkada ini, petahana hanya didukung satu Parpol yang pernah dipimpinnya, sedangkan banyak Parpol yang lain memilih mendukung dua kandidat lainnya. Ini juga tentu menjadi sebuah isyarat..!

Faktor pendukung lainnya ialah, bahwa sebagai petahana biasanya juga memanfaatkan pejabat/Aparatur Sipil Negara/ASN – termasuk camat dan kepala desa yang masih setia mendukungnya, untuk menggalang dukungan dari masyarakat. Namun langkah seperti ini berpotensi menimbulkan resiko. Jika ASN yang diminta membantu kampanye petahana terbukti memihak/tidak netral dalam pilkada, dan dilaporkan ke Komisi ASN, bisa mendapat sanksi. Belum lagi, jika hal itu dinilai sebagai sebuah kecurangan dan atau pelanggaran Pemilu, bukan hal yang tidak mungkin pasangan kandidat sebagai peserta Pilkada bisa mendapat sanksi dari KPU. Inilah yang disebut dengan senjata makan tuan.

Mengenai keberadaan calon Wakil Bupati, juga menjadi faktor pendukung – tetapi bisa juga menjadi faktor yang melemahkan. Ini tergantung dari rekam jejak calon Wakil Bupati dalam hubungannya dengan masyarakat pemilih, minimal di wilayah kecamatan dan desa- desa tertentu. Calon wakil bupati yang mendampingi Abu Hasan adalah Suhuzu, yang pernah menjadi Ketua Bawaslu Kabupaten Buton Utara. Bagaimana rekam jejak beliau dalam tugas kedinasan maupun dalam hubungan silaturahmi dengan sesama aparat – terutama dengan masyarakat umum, tentu hanya beliau dan masyarakat yang mengetahui.

Dari gambaran kondisi yang diuraikan ini, sudah dapat dipahami bahwa walaupun pasangan petahana mempunyai peluang untuk menang dalam Pilkada Butur, tetapi tidaklah begitu mudah untuk meraihnya. Karena itu, kepiawaian membangun komunikasi politik dan silaturahmi politik di sisa waktu yang ada, akan sangat menentukan hasil yang didambakan.

Kedua, pasangan Ridwan Zakariah/Ahali. Sebagai bupati priode sebelumnya, Ridwan Zakariah masih punya keluarga, pendukung setia dan simpatisannya yang bisa diharapkan menjadi motor penggerak untuk mengajak masyarakat pemilih. Selain itu, dari informasi yang berkembang di medsos, disebutkan bahwa banyak pembangunan fisik ibu kota dan infrastruktur lain yang dikerjakan dalam masa lima tahun kepemimpinan beliau sebelumnya.

Ini tentu menjadi faktor yang menguntungkan beliau, karena syarat utama sebuah daerah otonom antara lain tersedianya infrastruktur jalan dan jembatan yang memadai, tersedianya kebutuhan energi yang cukup dan sarana air bersih yang layak dan sehat.

Ketiga hal ini tidak mampu dilakukan masyarakat secara pribadi masing- masing warga masyarakat. Berbeda dengan kegiatan usaha pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan dan lainnya, masyarakat secara mandiri bisa melakukannya. Walaupun tentu butuh dukungan pemerintah untuk pengembangan yang lebih luas, produktif dan pasar untuk melakukan transaksi jual beli. Adanya faktor-faktor pendukung ini, tidak berarti bahwa Ridwan Zakariah tanpa faktor yang kurang menguntungkan.

Di media sosial banyak juga diungkapkan sistem kekeluargaan yang menonjol dalam kepemimpinan beliau, terutama dalam hal penempatan pejabat/aparatur, maupun dalam pelaksanaan pekerjaan proyek dilingkungan Pemerintah Kabupatan Buton Utara. Hal ini sepertinya sudah menjadi lazim, sehingga tidak heran kalau banyak juga pemimpin/pejabat yang melakukannya. Tetapi kedepan  tentunya, perlu kejujuran dan keadilan secara proporsional dengan warga di luar Ereke Kulisusu, dan tetap memperhatikan standard kompetensi sesuai bidangnya. Mengenai pelaksanaan pekerjaan proyek, memang seharusnya dilaksanakan sesuai  dengan aturan yang berlaku, baik pekerjaan yang melalui proses tender maupun swakelola. Sederhananya ialah dilaksanakan sesuai dengan aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah, sehingga pengelolaan dan pemanfaatan uang negara dapat dipertanggungjawabkan ketika di audit oleh BPK.

Calon Wakil Bupati Ahali yang mendapingi Ridwan Zakariah, adalah Komisaris Polisi yang pernah menjadi Kapolsek Kulisusu, kemudian pindah di Polda Sultra sebelum maju pada Pilkada ini. Beliau ini putra kelahiran desa Mata kecamatan Kambowa, satu desa kelahiran dengan Suhuzu, calon Wakil Bupati yang mendampingi Abu Hasan. Jadi Pilkada kali ini, sekaligus juga sebagai berkah bagi masyarakat desa Mata, karena dua putera terbaiknya terpilih menjadi calon wakil bupati. Mengenai rekam jejaknya sebagai aparat kepolisian, maupun dalam hubungan silaturahminya dengan masyarakat tentu akan menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat pemilih sebelum menentukan pilihannya.

Ketiga, pasangan Aswadi Adam/Fahrul Muhammad. Penulis belum mengenal dekat kedua figur ini, walaupun keduanya juga adalah putera daerah   Kulisusu  yang   mengabdi  di  daerah  lain.                                                          Faktor yang menguntungkan bagi kandidat pendatang baru ini, ialah dari segi usia mereka masih tergolong muda, sehingga kalangan milenial biasanya gandrung untuk memilih pemimpin yang masih muda usia.

Selain itu, karena mengabdi di daerah lain, maka masyarakat belum mengetahui kekurangan/ kelemahan mereka. Ada sifat sebagian masyarakat yang selalu menginginkan yang baru. Menurut mereka, kalau yang sudah pernah dipilih, cukuplah sekali saja karena kita juga sudah pernah merasakan kepemimpinannya.

Tetapi faktor menguntungkan bagi figur baru dalam kontestasi Pilkada, biasanya sebanding dengan faktor yang menjadi kelemahannya. Maksudnya, masyarakat juga belum mengenal dan mengetahui rekam jejaknya, sehingga ada yang mengatakan daripada memilih kucing dalam karung, lebih baik pilih yang terbaik dari calon yang sudah berpengalaman. Memang begitulah polarisasi pemikiran masyarakat, jika dihadapkan pada pilihan-pilihan, yang terkait kebutuhan dan kepentingannya.

Dari alanisis politik yang diuraikan ini, akhirnya akan kembali kepada kemampuan para kandidat untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya selama waktu yang tersisa sebelum hari-H. Disini dibutuhkan kemampuan membangun komunikasi politik dan silaturahmi politik kepada masyarakat pemilih.

Masing-masing kandidat tentu memiliki peluang untuk menang maupun kemungkinan kalah. Maka disini perlunya kesadaran, bahwa usaha dan perjuangan apapun yang dilakukan, akan kembali kepada kehendak dan ridho-Nya Allah Swt. Sehingga bagi yang menang dalam Pilkada ini, syukurilah kemenangan itu, dengan menunaikan amanah dari masyarakat Buton Utara seluruhnya – bukan hanya yang memilihnya, untuk membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakt Buton Utara. Dan bagi yang kalah, haruslah bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, bersabar dan introspeksi untuk tetap tegar. Jalan pengabdian dan kehidupan masih terbentang luas, dan waktu untuk meraihnya masih Panjang. Semoga Pilkada kali ini akan menjadi rakhmat bagi masyarakat Buton Utara.…!!!

Penulis adalah warga Buton Utara, domisili di Makassar.

 

Baca Juga !
Tinggalkan komentar