Dinkes Kendari Mencatat Kasus Stunting Mencapai 157 Orang

Dengarkan Versi Suara
Kepala Dinas Kesehatan Kendari Rahminingrum.

 

DINAMIKASULTRA.COM,KENDARI-Dinas Kesehatan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat jumlah kasus stunting atau gagal tumbuh kembang anak akibat gizi kronis di daerah itu sebanyak 157 anak.

“Dari 65 kelurahan, terdapat 36 daerah yang tidak memiliki kasus gagal tumbuh kembang anak. Kasus stunting per September 2021 tercatat 157,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kendari Rahminingrum di Kendari, Kamis.

Dia menyebut kasus stunting terbanyak di Kecamatan Abeli tercatat 106 tersebar di delapan kelurahan, disusul Kecamatan Kendari 21 kasus terbesar di lima kelurahan, Kecamatan Kendari Barat enam kasus di tiga kelurahan, Kecamatan Baruga enam di satu kelurahan.

Selanjutnya, Kecamatan Kadia lima kasus tersebar di dua kelurahan, Kecamatan Wua-wua lima kasus di lima kelurahan, Kecamatan Poasia empat kasus di satu kelurahan, Kecamatan Puuwatu dua kasus di dua kelurahan, Kecamatan Mandonga satu kasus di satu kelurahan, serta di Kecamatan Nambo di satu kelurahan.

Rahminingrum menjelaskan, stunting dapat dicegah dengan memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan, dimulai sejak saat kehamilan ibu membutuhkan membutuhkan gizi yang cukup untuk pertumbuhan otak janin, membangun berat badan dan tinggi badan janin.

Setelah lahir, lanjut dia, bayi juga membutuhkan gizi yang cukup dengan ASI dan MP ASI sesuai standar untuk mencapai tumbuh kembang yang baik, disertai upaya pencegahan penyakit melalui imunisasi dan pola hidup bersih.

Dia menyampaikan, tantangan pencegahan dan penanganan stunting di Kota Kendari pertama sarana dan prasarana penunjang Posyandu masih sangat minim, kedua angka partisipasi masyarakat atau kunjungan bayi, balita di Posyandu masih sangat kurang.

Selain itu, capaian ASI eksklusif masih rendah, peran serta lintas sektor dalam memaksimalkan fungsi Posyandu sebagai sarana pelayanan kesehatan dasar masih sangat minim serta akses sanitasi di beberapa aturan masih rendah.

“Menangani angka stunting di Kota Kendari perlu ada kerja sama dan komitmen kuat oleh semua pihak, baik lintas program maupun lintas sektor,” kata dia.

Dia menuturkan, stunting merupakan gagal tumbuh kronis yang prosesnya bertahun-tahun akibat lingkungan buruk, ketahanan pangan suatu daerah buruk, dan cakupan imunisasi kurang.

Meski demikian, Rahminingrum berjanji, ke depan pihaknya akan terus melakukan intervensi penanganan stunting dengan melibatkan seluruh tenaga kesehatan dan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) terutama seluruh Puskesmas di Kendari.

Baca Juga !
Tinggalkan komentar