Polisi Diminta Tegas Tangani Kasus Penganiayaan Siswa Oleh Seniornya di SMP Negeri 1 Kambowa

DINAMIKASULTRA.COM, BUTUR- Aparat Kepolisian Resort (Polres) Buton Utara diminta tegas dalam menangani kasus menanganiayaan dengan korban atas nama Tiwan siswa SMP Negeri 1 Kambowa kelas 8, yang pelakunya adalah tiga orang siswa seniornya masing-masing Eril, Faron dan Alam (siswa kelas 9) pada sekolah yang sama.
Hal itu disampaikan Arman (paman korban) kepada awak media, Minggu (27/02/2022). Arman menjelaskan, akibat penganiayaan dengan motif pengoroyokan yang dilakukan oleh tiga orang pelaku terhadap korban pada Jumat (25/02/202), membuat korban jatuh pingsan tidak sadarkan diri hingga mendapat perawatan medis di Puskemas Bonegunu, Kabupaten Buton Utara.
Dari hasil visum yang dikeluarkan oleh petugas medis yang menangani korban, terdapat bengkak pada bagian dada mengakibatkan korban sesak napas dan merasakan kesakitan pada bagian dada saat batuk. Pada bagian lutut juga terdapat luka memar hingga susah digerakan.
Mengantsipasi untuk tidak terulangnya peristiwa yang sama, dan untuk melahirkan efek jerah terhadap para pelaku, keluarga korban Arbianto di Kendari meminta aparat Polsek Bonegunu untuk tegas menindak para pelaku sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Korban Tiwan yang dihubungi melalui telepon selular kemarin, mengaku masih merasakan sakit pada bagian dada, punggung dan lutut. Karena kesakitan hingga bicarapun masih terbata-bata.
Dimata para guru di Sekolah tersebut ketiga (pelaku) terkenal nakal dan susah diatur, suka merokok di sekolah, suka bolos dan sering membuat onar.
Menurut pengakuan tiga orang guru disekolah itu masing, Amirudin, Lapaudu, Robi, Adrian kepada Arman (keluarga korban) saat menjemput Tiwan di sekolahnya, para guru mengalami kesusahan dalam membina tiga orang siswanya itu.
“Di sekolah ketiga anak itu sering bolos, sering kedapatan merokok di sekolah, dan tidak sedikit sering mengganggu teman-temannya yang lain. Beberapa tindakan yang sudah diambil oleh pihak sekolah, menyurati orang tuannya, hingga sampai pada skorsing tidak masuk sekolah, juga tidak ada perubahan, malah menganggap hal itu sebagai liburan bagi mereka. Karena peristiwa ini keluarga korban sudah melaporkannya di Polisi, maka kami juga berharap aparat kepolisian dapat melakukan pembinaan terhadap ketiga siswa tersebut, hingga melahirkan efek jerah,” ujar Amiruddin yang juga ikut diamini oleh para guru lainnya.
Kronolgis awal mula kejadian penganiayaan, menurut saksi mata Dandi yang saat itu sedang bermain bersama dengan korban. Berawal dari ketiga korban tidak senang direkam menggunakan kamera handpon oleh, Amirul dan Muh Arief siswa kelas 7 saat merokok di sekolah dan Bolos atas suruhan ibu guru Herlinda.
Tak terima mereka direkam video, ketiga pelaku mendatangi Muh Arif dan hendak memukulnya, korban Tiwan datang dan melerai, dengan cara memegang tangan Muh Arif dan membawanya pergi.
Merasa kesal dengan Sikap Tiwan yang membawa pergi Muh Arif calon korban mereka, hingga tak jadi dipukul, tiga pelaku kemudian berbalik arah menjadikan Tiwan sebagai sasaran mereka.
“Saat itu saya tengah bermain bersama di halaman sekolah bersama Tiwan, Tiwan dipukuli dan ditendang secara bergantian oleh tiga pelaku, hingga kemudian tidak sadarkan diri. Lalu Tiwan diangkat oleh guru dibawah keruang guru. Sebelum dijemput oleh keluarganya,” jelas Dandi.
Sebelum dilarikan ke Puskesmas Bonegunu untuk mendapat perawatan dokter, Tiwan mendapat perawatan pemasangan infus dari petugas medis di Desa Mata, oleh Adnan Hafit karena korban lemas dan sesak napas. (ds/sgn)