Dinkes : Kota Tanjungpinang Siap Menuju Bebas Penyakit Frambusia

Dengarkan Versi Suara
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang Elfiani Sandri dan Juru Bicara Satgas COVID-19 Provinsi Kepri Tjetjep Yudiana. (Ogen)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, TANJUNGPINANG – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Elfiani Sandri mengatakan, pihaknya tengah bersiap menuju penetapan bebas Frambusia, yakni penyakit tropis yang merupakan infeksi bakteri kronis yang memengaruhi kulit, tulang, dan tulang rawan.

Elfiani di Tanjungpinang, Kamis menyebutkan, Frambusia adalah penyakit menular langsung antarmanusia yang disebabkan oleh infeksi kronis bakteri Treponema Pertenue yang hidup di daerah tropis dan pada umumnya terlihat sebagai lesi pada kulit serta dapat menyebabkan cacat pada tulang.

“Penularannya melalui lalat atau melalui kontak langsung dari cairan luka penderita ke orang yang mempunyai kulit yang luka atau tidak utuh,” katanya.

Ia mengatakan peningkatan dan pemerataan pendidikan, kemajuan teknologi dalam pengobatan serta meningkatnya perilaku hidup bersih dan sehat berdampak pada hilangnya kondisi yang mendukung penularan Frambusia dan semakin terlokalisirnya penyebaran penyakit tersebut.

Situasi itu, katanya, merupakan momentum yang tepat untuk melaksanakan program eradikasi Frambusia dan persiapan penetapan sertifikasi Tanjungpinang bebas Frambusia pada tahun 2023.

Dia mengatakan, penetapan kabupaten/kota bebas Frambusia berdasarkan hasil surveilans telah terbukti tidak ditemukannya kasus Frambusia baru selama kurun waktu enam bulan berturut-turut, serta tidak pernah memiliki riwayat kasus Frambusia dan surveilans berkinerja baik.

Ia menjelaskan pada 2012, dilakukan survei di Tanjungpinang dan ditemukan bercak Kusta tipe MB satu orang, dan survei serologis Frambusia ditemukan dua orang rapid diagnostic test (RDT) positif dan dikonfirmasi dengan rapid plasma reagin (RPR), dengan hasil positif Sipilis dan tidak ditemukan kasus Frambusia.

“Berdasarkan laporan surveillans puskesmas dari 2012-2021, tidak ditemukan kasus Frambusia,” ungkapnya.

Dia menambahkan rencananya akan dilakukan penilaian pada Juni 2023 untuk sertifikasi Tanjungpinang bebas Frambusia. Penilaian dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI bersama Dinas Kesehatan Provinsi Kepri.

Oleh karenanya, ia mengajak semua pihak untuk mendukung dan mendorong terwujudnya Tanjungpinang bebas Frambusia.

“Kami mengajak rumah sakit, puskesmas, DPM/klinik untuk bersama-sama membuktikan dengan melakukan surveilans Frambusia di wilayah kerja masing-masing, sehingga penetapan Tanjungpinang bebas Frambusia dapat terwujud,” ujar Elfiani.(ds/antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar