Inovasi Industri Kelapa Sawit Untuk Tangani Krisis Energi Dunia

Dengarkan Versi Suara
Kepala Unit Kerja Khusus (UKK) Lembaga Sains Terapan (LST) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Dr. Jatna Supriatna (ds/ANTARA/Foto: Humas UI)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, DEPOK – Kepala Unit Kerja Khusus (UKK) Lembaga Sains Terapan (LST) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof. Dr. Jatna Supriatna, mengatakan perlu terus dikembangkan inovasi industri kelapa sawit agar bisa menangani krisis energi dunia.

“Hal ini penting mengingat lebih dari 50 persen produksi minyak sawit dunia berasal dari Indonesia,” kata Jatna Supriatna dalam keterangannya, Jumat.

Namun sayangnya, kata Jatna royalti untuk hasil riset kelapa sawit dari Indonesia sangat kecil. Hal ini karena mayoritas hak paten adalah milik asing.

Untuk itu kata dia FMIPA UI harus terlibat dalam riset dan inovasi mengenai kelapa sawit. Ini merupakan tantangan bagi kita.

“Kita harusnya bisa. Sumber daya ada, sarana ada, ilmunya ada, tinggal kita satukan tim-tim kita. Kami dari LST mencoba untuk memfasilitasi ini,” kata Prof. Jatna yang juga merupakan Guru Besar Departemen Biologi FMIPA UI.

Industri minyak sawit di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak 1848. Sawit tumbuh subur di Indonesia karena kondisi alam Indonesia cocok dengan pohon sawit.

Executive Director Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat M. Sinaga, mengatakan industri sawit mengalami banyak tantangan dan perkembangan.

Tantangan di industri sawit berkaitan dengan dampak negatif terhadap alam dan kesehatan yang juga menjadi kekhawatiran global saat ini, sedangkan perkembangan sawit dapat dilihat terutama di bidang pengolahannya.

Pada umumnya, minyak sawit diolah melalui proses sterilisasi basah (wet-proccess) dengan menggunakan uap. Proses ini meninggalkan kadar chloride atau klorida tinggi di minyak sawit.

Sawit mentah dari Indonesia secara alami mengandung karotenoid (provitamin A), tocopherol dantocotrienol (vitamin E), serta fitosterol (penurunan kolesterol). Akan tetapi, proses produksi atau pengolahan minyak nabati atau crude palm oil (CPO) konvensional dapat merusak kandungan-kandungan ini.

Oleh karena itu, diperlukan teknologi serta proses yang tepat untuk menjaga kandungan bermanfaat dari minyak sawit sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi sawit. Pada 2022, PT Nusantara Green Energi (NGE) bersama para peneliti memperkenalkan proses pengolahan minyak sawit melalui “dry-process” atau steamless di Batanghari, Jambi.

Menurut Sahat, jika sterilisasi dihilangkan dan diganti dengan dry-process, minyak sawit akan lebih aman dan sehat.

Sawit tidak hanya bermanfaat sebagai minyak goreng dan bahan bakar alternatif, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk lainnya, seperti kosmetik, parfum, detergen, cat, bahkan produk di bidang farmasi.

Sahat menekankan pentingnya pengolahan sawit menjadi produk yang dapat dimanfaatkan di berbagai bidang dan produk sampingan (by-product). Hal ini karena semakin banyak proses yang dilalui, semakin bertambah nilai barang tersebut.

“Makin kita kembangkan teknologi, inovasi produk, dan aplikasinya, kita dapat menambah nilai tambah hingga enam kali lipat. Begitu banyak potensi yang belum digarap dan digali dari sawit mulai dari hulu hingga ke hilir. Kami berharap UI dapat bersama-sama menjadi corong dari riset-riset sawit di Indonesia,” ujar Sahat.

Riset-riset dan inovasi mengenai sawit perlu dikembangkan terus-menerus untuk meningkatkan nilai tambah minyak sawit. Melalui produk riset dan inovasi, FMIPA UI turut berkontribusi tidak hanya pada industri sawit, tetapi juga bagi Indonesia. (ds/antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar