Peneliti BRIN: Teknologi di Lahan Kering NTB Terus Dikembangkan.

Dengarkan Versi Suara

 

 

Ilustrasi – Lahan pertanian yang kering saat musim kemarau di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. (ds/ANTARA/Aloysius Lewokeda)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Ahmad Suriadi mengatakan, pengembangan dan penelitian teknologi di lahan kering terus dilakukan, salah satunya menyiapkan prasarana dari segi pertanian di Nusa Tenggara Barat.

“Dalam skala besar PU sudah mengidentifikasi baik itu dari sumber daya air permukaan maupun sumber daya air dalam tanah. Dalam skala menengah pun telah kita lakukan seperti embung yang cukup besar beberapa lokasi, dalam skala yang kecil pun telah kita identifikasi semua sumber air yang ada di NTB yang bisa kita manfaatkan pada berbagai sumber air kecil,” ucap Ahmad saat dihubungi ANTARA, Jumat.

Peneliti bidang Sumberdaya Lahan, Agroklimatologi dan Hidrologi itu menjelaskan, sekitar 100.000 hektare lahan potensi di NTB dimanfaatkan sebagai Long Storage, yaitu pengembangan daerah tangkapan air di lahan yang cenderung datar yang ada di sekitar saluran-saluran irigasi. Selain itu juga dilakukan pipanisasi, embung, dan dam parit dalam skala kecil untuk irigasi pertanian.

“Dam parit kita lakukan dimana kita membendung sungai-sungai yang berada pada daerah yang topografinya agak miring. Kita bendung sedikit kemudian kita alirkan ke daerah-daerah lahan irigasi yang bisa digunakan untuk pertanian,” ucap Ahmad.

Dari proses teknologi yang dihasilkan Pusat Riset Tanaman dan Pertanian ini, banyak varietas padi yang dihasilkan terbukti cocok untuk lahan kering. Seperti Inpago 3 sampai 10, termasuk Inpari 13 dan Inpari 42 yang merupakan varietas yang cukup tahan di lahan yang kering

“Tidak hanya padi sebenarnya, ada jagung yang tahan kering seperti Bima 20 Uri dan Bima 19 Uri, kedelai Dena dan kacang tanah yang cukup tahan terhadap kekeringan yang sudah kita hasilkan,” jelasnya.

Untuk pemanfaatan lahan kering khususnya di Nusa Tenggara Barat, Ahmad menjelaskan para peneliti juga mengembangkan teknologi irigasi Sprinkle untuk tanaman bawang merah dan cabai.

“Teknologi irigasi springkle untuk tanaman bawang merah pada musim kemarau ini telah banyak digunakan oleh petani di Lombok timur maupun di Kabupaten Sumbawa di Pulau Sumbawa. Demikian juga untuk tanaman cabai,” ucap Ahmad.

NTB memiliki lahan kering sebesar 1,7 juta hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 15 sampai 20 persen. Ahmad berharap lebih banyak rancangan teknologi yang efisien untuk pemanfaatan irigasi, sehingga lahan kering di NTB bisa dimanfaatkan sefektif mungkin karena sebagian besar penduduk NTB ada di pedesaan.
“Sehingga memanfaatkan, meningkatkan dan mengembangkan lahan kering merupakan strategi yang sangat cocok dan sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan petani miskin di daerah lahan kering tersebut,” tutupnya.(ds/antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar