Pj Wali Kota: Angka Stunting Kendari Terendah di Sultra Hasil SSGI 2022

Listen to this article
Pj.Walikota Kendari, Asmawa Tosepu. (Ist)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Angka Stunting di Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami penurunan versi hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022.

Meskipun berhasil menurunkan angka stunting selama 2022 dan menjadi terendah di Sultra, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, tetap serius dan fokus melakukan upaya penanganan kasus stunting di Kota Kendari.

Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu, di Kendari, Senin (30/1), mengatakan berdasarkan hasil SGGI yang telah disampaikan Menteri Kesehatan beberapa hari lalu, khusus Kota Kendari mengalami penurunan presentasi data stunting, yakni dari 24 persen tahun 2021 menjadi 19,5 persen tahun 2022.

Ia mengatakan, angka itu sekaligus menempatkan Kendari sebagai daerah dengan angka stunting terendah dari seluruh kabupaten kota di Sultra.

“Ini merupakan keberhasilan seluruh pihak yang terlibat, terutama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang telah terbentuk,” katanya.

“Tahun 2023 pemerintah Kota Kendari menargetkan angka stunting menjadi 15 persen,” katanya.

Asmawa menyebutkan, pada tahun 2022 prevalensi tertinggi Stunting di Kendari terjadi di Kecamatan Kendari sebesar 2,7 persen, disusul Kecamatan Kendari Barat 2,6 persen dan di urutan ketiga ada Kecamatan Abeli dan Kecamatan Wua-wua masing-masing sebesar 2,3 persen.

“Jadi terdapat 5 Kecamatan dengan angka prevalensi stunting tertinggi tahun 2020-2022 yaitu Kecamatan Puuwatu, Kendari Barat, Kendari, Wua-wua dan Abeli,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa data trend perkembangan jumlah balita stunting tahun 2020-2022 menunjukkan bahwa, jumlah balita stunting di Kota Kendari rata-rata mengalami penurunan dari tahun 2020 ke tahun 2021 yaitu 466 orang menjadi 227 orang, tetapi mengalami peningkatan di tahun 2022 yaitu 365 orang.

“Beberapa Kecamatan dengan jumlah balita stunting tertinggi tahun 2022 adalah Kecamatan Kendari Barat, Kendari dan Puuwatu. Tetapi terdapat 3 Kecamatan yang mengalami penurunan jumlah balita stunting dari tahun 2020-2022 yakni, Kecamatan Mandonga, Baruga dan Kadia,” katanya.

Menurutnya, data itu menegaskan bahwa sebaran jumlah balita stunting yang meningkat menunjukkan masih tingginya masalah gizi dan faktor determinan pada balita yang ditemui di wilayah tersebut dan perlu terus dilakukan intervensi gizi spesifik dan sensitif.(ds/sgn)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar