Timor Leste Dukung Terciptanya Perdamaian di Myanmar

Dengarkan Versi Suara
Sejumlah warga di Yangon, Myanmar, pada Senin (25/7/2022) menggelar protes pascaeksekusi mati para aktivis. Gambar ini diambil dari sebuah video di media sosial. (ds/ANTARA/Lu Nge Khit/via REUTERS/tm/pri)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, LABUAN BAJO – Timor Leste menyatakan dukungannya pada Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam membantu menciptakan perdamaian di Myanmar.

Saat menyampaikan sambutan dalam sesi pleno pembukaan KTT ke-42 ASEAN di Labuan Bajo, NTT, Rabu, Perdana Menteri Timor Leste Taur Matan Ruak mengatakan ASEAN harus menciptakan solusi agar krisis Myanmar segera berakhir.

“Kami juga memiliki kewajiban untuk mendorong agar ASEAN dan komunitas internasional untuk menciptakan perdamaian di Myanmar dan kita harus berkontribusi pada pencapaian solusi agar Myanmar kembali ke tatanan konstitusional yang ada,” ujar PM Ruak.

Timor Leste untuk pertama kali hadir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN setelah pada November 2022 diterima secara prinsip sebagai anggota ke-11 organisasi regional itu.

Namun, partisipasi Timor Leste dalam KTT kali ini hanya sebatas dalam kapasitas pengamat (observer).

Presiden Joko Widodo pada Rabu resmi membuka KTT ke-42 ASEAN di Hotel Meruorah, Labuan Bajo, NTT. KTT dihadiri oleh delapan pemimpin ASEAN.

Di antara 10 negara anggota ASEAN, hanya kepala negara Thailand dan Myanmar yang tidak hadir dalam KTT Ke-42 ASEAN.

PM Thailand Prayut Chan-o-cha absen karena Negara Gajah Putih itu tengah mempersiapkan pemungutan suara pemilu, yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Mei.

Sementara itu, Myanmar tidak diundang secara politik dalam KTT Ke-42 ASEAN seiring dengan sikap ASEAN untuk mengecualikan junta Myanmar dalam pertemuan-pertemuan tingkat tinggi organisasi kawasan tersebut.

Langkah itu diambil karena militer dianggap gagal menerapkan Konsensus Lima Poin, yakni sebuah rencana perdamaian yang diinisiasi oleh para pemimpin ASEAN pada April 2021 guna membantu mengakhiri konflik di Myanmar.

Pada keketuaan kali ini, Indonesia mengangkat tema ASEAN Matters: Epicentrum of Growth yang bermakna ASEAN relevan dan penting sebagai pusat pertumbuhan dunia.

Indonesia bertujuan memperkuat kapasitas dan efektivitas kelembagaan ASEAN agar mampu menjawab tantangan 20 tahun ke depan.

Indonesia menyatakan akan mengawal kawasan menuju ASEAN 2045 yang perlu lebih adaptif, responsif, dan kompetitif dengan cara-cara yang sejalan dengan prinsip Piagam ASEAN.

Sebagai ketua, Indonesia juga bertujuan memperkuat pemulihan ekonomi dan menjadikan Asia Tenggara sebagai mesin pertumbuhan yang berkelanjutan.

ASEAN didirikan di Bangkok, Thailand, pada 8 Agustus 1967 dan saat ini beranggotakan Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Laos, Kamboja, Myanmar, serta Vietnam.

Timor Leste secara resmi mengajukan diri untuk menjadi anggota ASEAN pada 2011, tetapi permohonan itu baru disetujui pada KTT di Phnom Penh, Kamboja, pada November tahun lalu.

ASEAN saat ini sedang mempersiapkan peta jalan untuk keanggotaan penuh Timor Leste ke dalam organisasi kawasan tersebut.

Peta jalan itu merupakan langkah yang harus ditempuh Timor Leste untuk partisipasi penuh, termasuk perjanjian atau traktat yang ada dalam tiga pilar ASEAN; politik keamanan, ekonomi, dan sosial budaya.(ds/antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar