Indonesia- ASEAN Lakukan Asesmen Pascabencana Siklon Mocha Myanmar

Suasana kerusakan pemukiman warga setelah dihantam siklon Mocha di Sittwe, Myanmar, Rabu (17/5/2023). Badai disertai angin berkecepatan 210 kilometer per jam tersebut merusak infrastruktur dan diperkirakan menelan korban jiwa ratusan orang sehingga merupakan bencana siklon terburuk sejak tahun 2008. (ds/ANTARA FOTO/Partners Relief and Development/Handout via Reuters/nym.)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia bersama ASEAN-ERAT (Emergency Response and Assessment Team) melakukan asesmen di hari ketiga pascabencana siklon Mocha di Myanmar.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Kamis, mengatakan ASEAN-ERAT yang dikoordinasikan ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre) terdiri dari 14 personel lembaga pemerintah, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai wakil Indonesia, dan beberapa negara ASEAN lainnya.

Selain wakil lembaga pemerintah, personel AHA Centre dan ASEAN Sekretariat menjadi bagian dari tim asesmen ini.

“Kegiatan ini masih dipusatkan di Provinsi Rakhine,” ujar Abdul.

Abdul mengatakan kegiatan asesmen berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 22 hingga 25 Mei 2023, dengan target asesmen pada beberapa wilayah di Provinsi Rakhine.

Wilayah yang menjadi sasaran asesmen merupakan rekomendasi dari badan penanggulangan bencana Myanmar atau Department of Disaster Management (DDM).

ASEAN-ERAT yang diterjunkan terbagi menjadi dua tim untuk menjangkau empat wilayah atau township di Provinsi Rakhine. Wilayah setingkat kecamatan ini mencakup Kyauktaw, Ratheudang, Ponnagyun dan Sittwe.

Asesmen tersebut bertujuan untuk membantu otoritas setempat dalam penanganan darurat bencana siklon tropis Mocha, yang salah satunya menerjang Provinsi Rakhine pada Minggu lalu (14/5).

 

“Melalui asesmen ini, penanganan darurat oleh Pemerintah Myanmar diharapkan dapat tepat sasaran dan berjalan efektif,” ujar Abdul.

Selain sektor pangan, otoritas setempat juga menekankan pada pembukaan sekolah pada tanggal 1 Juni ini, pembersihan material bangunan dan pohon, serta perbaikan tiang maupun jaringan listrik di wilayahnya.

Siklon tropis Mocha yang menerjang beberapa wilayah Myanmar berdampak sangat besar tidak hanya kerusakan infrastruktur atau bangunan, tetapi juga korban jiwa.

AHA Centre merilis data per 22 Mei 2023, tercatat korban meninggal dunia mencapai 145 jiwa, luka-luka 131 jiwa dan rumah rusak 234.147 unit.

Hingga kini penanganan darurat terus dilakukan oleh otoritas setempat, seperti di wilayah Sittwe, Ponnagyun atau pun Kyaktauw. Tampak aktivitas dari dinas pekerjaan umum yang disibukkan dengan perbaikan jaringan listrik.

Pemadaman listrik masih dirasakan di wilayah Rakhine yang terdampak bencana. Hal tersebut mengingat banyaknya kerusakan jaringan listrik yang tertimpa pohon atau pun robohnya tiang.

Di samping itu, personel dari dinas pemadam kebakaran dan kepolisian memotong ranting pohon yang tumbang dan membersihkan puing-puing pohon maupun material bangunan.

“Pascabencana sejumlah warga yang sempat evakuasi, seperti di Kyaktauw, telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Sementara sejumlah warga lain yang rumahnya rusak, khususnya pada bagian atap, melakukan perbaikan secara mandiri,” ujar Abdul.

Namun demikian, tampak atap-atap rusak pada rumah warga yang belum dibersihkan atau pun diperbaiki.

Pemerinah Myanmar menyatakan 17 township di Provinsi Rakhine dan empat lainnya di Chin sebagai wilayah terdampak bencana siklon tropis Mocha dengan kecepatan angin 200 km/jam tersebut.

Sementara itu, AHA Centre merupakan organisasi yang diberikan mandat di kawasan Asia Tenggara untuk membantu negara anggotanya yang tertimpa bencana. Selain dari Indonesia, personel ASEAN ERAT yang melakukan asesmen di Provinsi Rakhine ini berasal dari negara ASEAN lainnya, seperti Brunei Darussalam, Filipina, Singapura dan Thailand.(ds/antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar