Sulap Pisang Jadi Produk Bernilai Tinggi di Desa Lameuru Konsel

Listen to this article
Foto pengabdian masyarakat dari Universitas Sulawesi Tenggara yang berkolaborasi dengan dosen Universitas Halu Oleo berhasil menyulap buah pisang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. (Ist)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KONSEL – Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) menjadi penyumbang pisang terbesar ketiga di Sulawesi Tenggara, yang mencapai 32.138,53 kw/qui pada 2024.

Sebuah inisiatif pengabdian masyarakat dari Universitas Sulawesi Tenggara yang berkolaborasi dengan dosen Universitas Halu Oleo berhasil menyulap buah pisang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Dosen Fakultas Pertanian Unsultra, UHO dan mahasiswa peserta PMM, sukses menggelar pelatihan pembuatan keripik pisang dengan beragam rasa di Desa Lameuru, Kecamatan Ranomeeto Barat, membuka peluang baru bagi warga desa untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Kegiatan Program pengabdian kepada Masyarakat (PMM) Tahun pendanaan 2025 yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan, Tinggi, sains dan teknologi, salah satu kegiatannya berlangsung di Dusun 2 Desa Lameuru dan ini bukan sekadar workshop biasa, melainkan langkah konkret untuk memberdayakan masyarakat.

Diikuti oleh 3 dosen pembimbing (Dr.Rustan ari, STP., M.Si, H.Herman Titop, SE., MSi, Eko Aprianto Johan, SP., MM), 19 mahasiswa peserta PMM dari program studi THP, Agribisnis, Peternakan dan Ekonomi (Putu Budi Andika, Nadia Lestari, Suriyanti, M Yusril Mahendra, Amelia, Awaludin, Denil Satria, Bakri, Firdaus Ziratul Izad, Guntur, Uci Mayani, Nafila khair, Eka Aprilia, Muh.Fadli Purnama, Fitri, Indah, Hasrina, Nurilank, Mega Indriani), anggota kelompok PKK, serta ibu desa Lameuru.

Pelatihan ini mengajarkan secara komprehensif mulai dari pemilihan bahan baku pisang segar, proses pengolahan dengan teknik higienis, hingga inovasi rasa cokelat, keju, pedas manis, dan varian unik lainnya yang disesuaikan dengan selera pasar modern.

Tidak ketinggalan, peserta juga dilatih dalam pengemasan produk yang menarik dan aman, agar keripik pisang ini siap bersaing di pasar lokal maupun online.

Potensi pisang di Konawe Selatan sangat besar, tapi sering kali hanya dijual mentah dengan harga rendah. Melalui pelatihan ini, Insan Kampus ingin warga Masyarakat bisa menambah nilai jual produk mereka, sekaligus menciptakan usaha rumahan yang berkelanjutan, ujar salah satu dosen pembimbing dari Fakultas Teknologi Pertanian Unsultra Dr. Rustan ari, yang turut mempraktikkan teknik pengolahan dan penggorengan untuk menjaga kualitas gizi produk.

Antusiasme warga terlihat jelas saat sesi praktek. Ibu-ibu PKK, yang mayoritas petani pisang, langsung mencoba resep dan berbagi ide rasa baru berdasarkan bahan lokal.

Ini peluang bagus buat kami. Biasanya pisang cuma dijual ke pasar, sekarang bisa jadi camilan enak yang bisa dijual lebih mahal, kata salah seorang peserta dari kelompok PKK.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan komoditas hortikultura unggulan di Konawe Selatan, di mana pisang menjadi salah satu andalan untuk peningkatan ekonomi pedesaan.

Dengan pelatihan serupa yang pernah dilakukan di desa-desa lain di kabupaten Konawe Selatan, diharapkan Desa Lameuru bisa menjadi pusat produksi keripik pisang berkualitas, bahkan berpotensi ekspor ke wilayah lain di Sulawesi Tenggara.

Universitas Sulawesi Tenggara dan Universitas Halu Oleo melalui Fakultas Teknologi Pertanian terus aktif dalam program pengabdian masyarakat seperti ini, mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan kebutuhan riil masyarakat.

Kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Rektor Universitas Sulawesi Tenggara serta Kepala Desa Lameuru, atas dukungan penuh yang telah diberikan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini.

Kontribusi berharga dari institusi-institusi tersebut tidak hanya memungkinkan terwujudnya program pembuatan keripik pisang beragam rasa di Desa Lameuru, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi alam.(ds/ono)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar