Prof. Susanto Zuhdi: Orang Buton Berperan Penting Jadi Penghubung Antarpulau Merajut Integrasi Bangsa

,
KENDARI-Masyarakat suku Buton dirantau kerap menjadi perintis pembuka wilayah baru yang berkembang menjadi pemukiman dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Prof Susanto mencontohkan, orang Buton banyak berperan di sektor pertanian dan usaha kecil menengah, termasuk pengembangan perkebunan cengkeh di berbagai daerah. Kehadiran mereka ikut menggerakkan perekonomian lokal dan mempererat hubungan antarsuku.
Hasil penelitian yang dilakukan timnya menunjukkan empat daerah dengan komunitas Buton besar, yakni Sorong (Papua Barat), Ambon (Maluku), Kalimantan Timur, dan Bangka Belitung. Kajian tersebut berlangsung sekitar satu tahun, meski bahan penelitian sudah lama dikumpulkan.
Di sisi budaya, diaspora Buton tetap menjaga identitas dengan menampilkan seni tradisi di perantauan. Tarian khas Buton, misalnya, sering dipentaskan di Balikpapan, Samarinda, hingga Sorong. Hal ini menjadi penanda kuat bahwa identitas budaya tetap terjaga meski jauh dari tanah kelahiran.
Lebih lanjut, Susanto mengingatkan bahwa istilah “Buton” dalam konteks sejarah merujuk wilayah yang lebih luas dari sekadar Pulau Buton. Dulu, kekuasaan Kesultanan Buton mencakup Muna, Wakatobi, Mawasangka, dan sekitarnya. Karena itu, masyarakat dari kawasan tersebut kerap disebut orang Buton ketika berada di luar daerah.
“Buku ini menjadi pintu awal untuk lebih mengenal masyarakat Buton sebagai perantau, pelaut, dan penjaga tradisi di rantau. Semoga keberadaan karya ini bisa memperkaya pemahaman kita tentang kontribusi mereka dalam membangun ekonomi, budaya, dan integrasi bangsa,” pungkas Susanto. (ds/ono)