Lapas Kendari Beri Pelatihan Kerja 80 Napi

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari melaksanakan pelatihan keterampilan kerja bagi 80 orang warga binaan atau narapidana sebagai bekal kemandirian saat mereka bebas setelah menyelesaikan masa pidana.
Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Kerja (Bimnaker) Lapas Kelas IIA Kendari Al Jamin saat ditemui di Kendari, Senin, mengatakan bahwa pelatihan ini diharapkan mampu memberikan keterampilan teknis yang relevan agar mantan narapidana dapat kembali produktif di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini dilaksanakan sejak pertengahan Oktober 2025 lalu,” kata Al Jamin usai menutup kegiatan pelatihan kerja warga binaan.
Dia menyebutkan bahwa total 80 warga binaan dibagi menjadi empat kelompok, dengan setiap kelompok menjalani pelatihan selama enam hari kerja.
“Pelatihan ini diikuti oleh 80 orang warga binaan yang terdiri dari dua bidang keterampilan. Sebanyak 60 orang mengikuti kelas fabrikasi las, dan 20 orang mengikuti pertukangan batu,” ujarnya.
Al Jamin menjelaskan program pelatihan yang digelar setiap tahun ini bertujuan utama memberikan pengetahuan teknis sekaligus membekali warga binaan agar memiliki kemandirian finansial.
“Harapan kita, mereka keluar bisa mandiri. Sudah beberapa tahun kami laksanakan ini, banyak di antara mereka yang kini sudah bekerja di luar daerah, bebas kerja di industri, bahkan di tambang,” ucap Al Jamin.
Dia mengungkapkan bahwa selain dua pelatihan kerja itu, pelatihan keterampilan lainnya di Lapas Kendari memiliki variasi program setiap tahun. Sebelumnya, Lapas pernah melaksanakan pelatihan seperti pertukangan kayu dan hidroponik.
Lapas Kendari juga membuka peluang kolaborasi dengan pihak ketiga atau lembaga lain, seperti yang pernah dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperluas jangkauan pelatihan kepada warga binaan lainnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Metroriset Sultra Abd Hakim menyampaikan bahwa secara prinsip pelatihan yang diberikan sama dengan di luar Lapas, tetapi fokus utama adalah memastikan setiap peserta latih di akhir sesi harus kompeten.
“Kompeten itu mencakup tiga aspek, mereka harus mampu dalam aspek pengetahuan, sikap juga harus dibangun, dan yang paling penting teknisnya. Mereka harus mampu minimalnya punya kemampuan dasar untuk bisa mengembangkan diri ketika mereka lepas dari sini,” jelas Abd Hakim.
Abd Hakim juga menambahkan antusiasme warga binaan sangat tinggi karena program ini memberikan mereka kesempatan berinteraksi dengan orang luar, serta mendapat sertifikat yang menjadi legalitas penting saat mereka mencari kerja di industri.
“Sertifikat ini sangat penting ketika mereka lepas keluar, bicara industri mereka butuh legalitas. Dan kertas itu adalah salah satu bentuk kelayakan bahwa mereka ini mampu untuk di bidang ini,” tambahnya.
Diketahui, dalam pelatihan kerja warga binaan tersebut, seluruhnya atau 80 orang narapidana yang mengikuti kegiatan itu dinyatakan lulus dengan kompeten.(ds/ono)