Mengurai Dampak Penggunaan Media Sosial Pada Remaja
Oleh : Fadel , Mahasiswa UHO Prodi Jurnalistik
Penggunaan media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja di era digital. Hampir setiap hari, remaja menghabiskan waktu di platform seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan X untuk berkomunikasi, mencari hiburan, dan mengikuti perkembangan tren. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan perkembangan teknologi, tetapi juga menimbulkan perhatian publik mengenai dampak yang ditimbulkan terhadap perkembangan psikologis, sosial, dan perilaku remaja. Karena itu, muncul beragam opini publik yang melihat penggunaan media sosial sebagai fenomena yang memiliki dua sisi: bermanfaat sekaligus berisiko.
Sebagian masyarakat memandang media sosial sebagai sarana yang memberikan banyak manfaat bagi remaja. Platform digital dianggap membantu mereka memperluas pergaulan, mengekspresikan diri, dan menemukan komunitas yang memiliki minat serupa. Banyak remaja yang menggunakan media sosial untuk berbagi karya, seperti foto, tulisan, maupun video kreatif, yang pada akhirnya mendorong perkembangan potensi diri. Selain itu, media sosial juga memudahkan mereka memperoleh informasi terkini, mengakses materi edukatif, serta membangun keterampilan digital yang relevan dengan perkembangan zaman. Tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa media sosial dapat membuka peluang ekonomi baru bagi remaja, misalnya melalui pembuatan konten atau promosi usaha kecil-kecilan.
Namun opini publik tidak berhenti pada dampak positif saja. Sebagian besar masyarakat justru mengkhawatirkan risiko penggunaan media sosial yang berlebihan. Remaja dinilai rentan mengalami kecanduan gawai, menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll tanpa henti, hingga mengabaikan waktu belajar dan aktivitas produktif lainnya. Kekhawatiran juga muncul terkait meningkatnya kasus cyberbullying, body shaming, dan tekanan sosial yang sering berlangsung di dunia maya. Banyak orang tua mengeluhkan perubahan perilaku anak yang lebih mudah stres atau merasa minder karena terus membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan di media sosial. Fenomena FOMO (fear of missing out) juga dinilai berdampak buruk karena membuat remaja merasa harus selalu online agar tidak tertinggal informasi.
Opini publik juga menyoroti pengaruh konten negatif yang mudah diakses remaja, seperti ujaran kebencian, kekerasan, atau konten tidak pantas. Ketiadaan filter yang baik membuat remaja rentan menerima informasi tanpa proses kritis, sehingga dapat membentuk perilaku impulsif atau meniru tren berbahaya yang viral di media sosial. Sebagian masyarakat menyalahkan algoritma platform yang membuat remaja terjebak dalam lingkaran konten tertentu, sehingga memperkuat dampak psikologis dan sosial yang merugikan.
Meski demikian, ada pula masyarakat yang mengambil posisi lebih netral dan kritis. Kelompok ini menilai bahwa media sosial hanyalah alat; dampaknya baik atau buruk sangat bergantung pada bagaimana remaja menggunakannya. Bagi mereka, peran keluarga, lingkungan sekolah, dan literasi digital jauh lebih penting daripada menyalahkan teknologi sepenuhnya. Selama ada pendampingan yang tepat, batasan waktu yang jelas, dan pengawasan konten yang dikonsumsi, media sosial tetap dapat digunakan secara sehat dan produktif.
Diskusi mengenai penggunaan media sosial oleh remaja juga ramai di platform digital itu sendiri. Banyak warganet yang mengkritik kebiasaan remaja yang terlalu sibuk bermain ponsel hingga melupakan dunia nyata. Di sisi lain, muncul pula kampanye edukatif seperti “bijak bermedia sosial” dan “digital well-being” yang berusaha mengajak pengguna, termasuk remaja, untuk lebih mengontrol waktu dan pola penggunaan media sosial. Perdebatan antara yang memandang media sosial sebagai ancaman dan mereka yang melihatnya sebagai peluang menunjukkan betapa kompleksnya fenomena ini dalam kehidupan masyarakat modern.
Pada akhirnya, opini publik terkait dampak penggunaan media sosial pada remaja menggambarkan bahwa platform digital membawa pengaruh besar, baik positif maupun negatifnya. Media sosial dapat menjadi ruang kreativitas, pembelajaran, dan ekspresi diri, tetapi juga menghadirkan risiko yang tidak boleh diabaikan. Masyarakat berharap adanya literasi digital yang lebih kuat, pendampingan dari keluarga, serta regulasi yang mampu melindungi remaja dari dampak buruk dunia digital. Dengan penggunaan yang bijak, media sosial seharusnya dapat menjadi alat yang mendukung perkembangan remaja, bukan justru menghambatnya.***