Fransiscus Suramas Rembon Raih Guru Besar UHO

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Sagu kini tidak hanya bisa dijadikan sebagai pangan semata akan tetapi kini mulai bisa digunakan sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Hal ini dipaparkan Prof. Dr. Ir. Fransiscus Suramas Rembon, MSc., dalam orasi ilmiahnya ketika dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pengelolaan tanah dan air di auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo, Senin (9/2/2026).
Pengukuhan Prof. Dr. Ir. Fransiscus Suramas Rembon, MSc., sebagai guru besar bersamaan dengan tujuh rekan pengajar di kampus terbesar di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Penelitian itu diberi judul “Optimalisasi Pengelolaan Lahan Sagu Menunjang Ketahanan Pangan Dan Energi Terbarukan”.
Prof. Dr. Ir. Fransiscus Suramas Rembon, MSc., mengatakan selama ini sagu hanya dilihat sebagai pangan, akan tetapi pada dasarnya sagu ini bisa dimanfaatkan untuk bahan baku industri, mulai dari sebagai bioetanol hingga chip komputer.
“Jadi selama ini, kita hanya melihat sagu ini kecil atau hanya sebagai sumber pangan. Akan tetapi di negara maju seperti Jepang pemanfaatan sagu ini sudah sangat jauh, dimana disana dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan chip komputer ataupun berbagia keperluan lainnya dengan Nanoteknologi,” ujar Prof. Fransiscus Suramas Rembon.
Pria kelahiran Makale Tana Toraja ini menjelaskan, dalam hal pemanfaatan sagu sebagai energi baru terbarukan ini harus dicampurkan dengan Pertamax dengan perbandingan 1 banding 10. Dimana 10 untuk pertamax dan 1 untuk sagu.
“Jadi energi itu kan dari tepung sagu difermentasi menjadi bioetanol. Bioetanol itu dipakai dengan cara dicampurkan dengan pertamax. Ya, jadi dengan perbandingan satu banding sepuluh. Satu liter bioetanol dari sagu, sepuluh liter bensin atau pertamax,” jelasnya.
Lulusan McGill University Montreal Canada ini mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi penurunan produksi sagu.
Hal ini disebabkam banyak faktor salah satunya cara pengembangbiakannya yang selama ini menggunakan anakan, sehingga saat ini pihaknya lagi melalukan pengembangbiakan dengan mengguna biji.
“Selama ini orang-orang mengembangbiakan sagu itu dengan anakan dan ini sulit, sehingga saat ini kita kembangkan dengan melalui biji yang diambil dari Papua karna biji sagu di Sultra belum menghasilkan. Dengan penggunaan biji bisa sampai ribuah hektar berbeda dengan menggunakan anakan karena diambil satu persatu dari anakan pohon induk,” jelasnya.
Lulusan Doktoral Ehime University Matsuyama Jepang ini melanjutkan, penelitian pengembangbiakan sagu memggunakan biji ini sudah mulai dilakukan dilaboratorium lapangan Fakuktas Pertanian UHO. Dimana sudah ada yang tumbuh.
“Penelitian ini sudah dilakukan sejak 2007 dan bibitnya ini sudah ada dan itu terdapat dilaboratorium lapangan Fakultas Pertanian. Ini belum diperkenalka luas kemasyarakat akan tetapi kedepannya penelitian ini akan diperkenalkan kemasyarakat guna meningkatkan Produksi Sagu di Sultra yang selama ini masih rendah,” ungkapnya.
Dosen Fakultas Pertanian UHO ini menuturkan, penghargaan yang diraih sebagia Guru Besar merupakan suatu kebanggaan yang sangat bernilai, hal ini dikarenakan Guru Besar ini merupakan tonggak tertinggi dalam perjalanan akademik.
Namun gelar tersebut harus dibuktikan melalui karya nyata yang bermanfaat dan berdampak.
“Pada dasarnya, dengan adanya penghargaan ini, kami dituntut untuk terus berkontribusi dan menghadirkan dampak positif. Harapan ke depan, kami dapat memberikan kontribusi yang lebih baik lagi, khususnya dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembimbingan mahasiswa,” Pungkasnya.(ds/adf)