MPM UHO Mengutuk Aksi Demonstrasi Mengandung Kekerasan

Listen to this article
Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Halu Oleo (MPM-UHO) Alvin  Rezki Saputra (foto:dok)

 

DINAMIKA SULTRA.COM,KENDARI-Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Halu Oleo (MPM-UHO) melalui Ketuanya Alvin Rezki Saputra mengutuk aksi kekerasan yang menyedot perhatian civitas akademika Universitas Halu Oleo (UHO).

Sebuah video yang beredar luas menunjukkan terjadinya kericuhan pada unjuk rasa di depan Gedung Rektorat UHO (10/5/2025) yang digelar oleh sekelompok mahasiswa ditujukan sebagai bentuk penolakan terhadap keputusan perpanjangan masa jabatan rektor.

Namun sangat disayangkan, aksi tersebut berujung pada ketegangan dan kekacauan yang mencederai etika akademik serta semangat intelektual yang selama ini menjadi fondasi kehidupan kampus.

Alvin sangat sesalkan atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa pernyataannya tidak dimaksudkan untuk membela siapapun, baik pihak rektorat maupun kelompok mahasiswa tertentu. Fokus utamanya adalah menyeruhkan agar seluruh civitas akademika tetap menjunjung tinggi etika akademik dan menghindari segala bentuk tindakan kekerasan yang justru merusak wajah intelektual kampus.

Menurut Alvin, dalam suasana yang seharusnya penuh dengan kedewasaan berpikir dan dialog terbuka, tindakan provokatif dan kekerasan justru menjadi sorotan. Padahal, kampus bukanlah ruang konflik fisik, melainkan ruang aman untuk menyampaikan gagasan, perbedaan pendapat, dan kritik yang membangun. Dalam lingkungan akademik, segala bentuk aspirasi harus disampaikan secara etis, terukur, dan bermartabat.

Perlu ditegaskan bahwa kebijakan perpanjangan masa jabatan rektor bukanlah keputusan sepihak dari pihak internal kampus, melainkan merupakan produk dari proses administratif yang menjadi wewenang dan otoritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Oleh karena itu, apabila terdapat keberatan atau penolakan terhadap keputusan tersebut, maka saluran kritik yang tepat adalah kepada kementerian sebagai pembuat kebijakan, bukan diarahkan kepada pimpinan universitas secara langsung apalagi dengan cara-cara yang mengarah pada kekerasan.

Menurutya menjadikan kampus sebagai tempat pelampiasan kekesalan terhadap kebijakan yang ditetapkan oleh lembaga di luar kampus adalah bentuk kesalahan arah kritik yang justru dapat merusak atmosfer akademik dilingkungan kampus UHO.

Alvin menegaskan bahwa mahasiswa tentu memiliki hak konstitusional untuk menyampaikan aspirasi. Namun, dalam lingkungan akademik yang sehat, hak tersebut harus dijalankan dengan menjunjung tinggi etika, norma hukum, dan semangat intelektualitas. Kritik dan perbedaan pandangan seharusnya menjadi pemicu untuk memperkuat budaya dialog dan demokrasi kampus, bukan menjadi alasan untuk menciptakan ketegangan atau perpecahan antar elemen civitas akademika.

Dalam situasi yang dinamis ini, Universitas Halu Oleo perlu menjaga komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, kondusif, dan produktif. Seluruh elemen kampus mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga pimpinan memiliki tanggung jawab moral untuk merawat ruang akademik, dengan menjunjung tinggi prinsip saling menghargai dan membangun komunikasi yang sehat. Aksi dan kritik seharusnya mendorong perbaikan, bukan menciptakan luka.

Jika ada kebijakan yang dirasa tidak sesuai dengan semangat demokrasi kampus, maka mekanisme advokasi, kajian akademik, penyampaian pendapat melalui forum ilmiah, serta penyuratan resmi ke kementerian adalah langkah-langkah yang jauh lebih bermartabat dan sesuai dengan tradisi akademik.

“Mari jadikan momen ini sebagai refleksi bersama. Universitas Halu Oleo bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat membangun peradaban berpikir. Etika adalah jantung akademik. Tanpa etika, kampus hanya menjadi ruang kosong yang kehilangan makna,” tutup Alvin.

Lanjut Alfin, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menolak segala bentuk kekerasan, menjaga martabat kampus, serta mendukung penyampaian aspirasi secara damai dan bertanggung jawab. Hanya dengan cara inilah kita bisa menjaga warisan intelektual dan moralitas kampus sebagai tempat pencetak generasi pemimpin masa depan.(ds/ian/ono)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar