Banjir Melanda Indonesia Buah Kebijakan Pemerintah yang Tidak Pro Rakyat

Listen to this article

 

Oleh : Lisa Natalia Sakkir dan Lisa Dewi Qursari, Mahasiswa Jurnalistik Universitas Halu Oleo (UHO), Sulawesi Tenggara, dibimbing oleh Dosen Bapak La Ode Jumaidin, S.Sos., M.Si.

Gelombang banjir yang kini melanda hampir seluruh wilayah Indonesia bukan sekadar bencana musiman, namun tanda kerasnya alam dalam memberi peringatan terhadap manusia bahwa kondisi alam kita di Indonesia secara umum, dalam keadaan tidak baik-baik saja. Karena telah banyak kawasan hutan lindung dirusak oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

Mulai dari Aceh, Sumatra Barat, hingga Sumatra Utara dan hampir semua wilayah di Indonesia mangalami hal yang sama, mereka tak hanya digenangi air tetapi wilayah pemukiman warga juga ditimpah batang kayu log hasil tebangan aktivitas pengusaha yang tidak bertanggungjawab, datang bersama derasnya air hingga merusak rumah warga, merusak jembatan penghubung antar kota hingga lumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, dan memaksa ribuan warga terpaksa harus mengungsi.

Peristiwa ini setiap tahun  ketika musim hujan dengan intensitas tinggi kita terus disajikan dengan peristiwa yang sama, namun respons dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan tetap terjebak pada penanganan jangka pendek, membangun posko, dan memberikan bantuan darurat. Namun  tidak ada solusi nyata yang bisa mengurai untuk tidak terjadinya lagi banjir yang terus berulang.

Selama bertahun-tahun, lahan hijau terus menyusut, menggantikan bangunan tanpa mempertimbangkan tata ruang yang berkelanjutan. Sungai yang dulunya menjadi jalur air kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Hutan yang menjadi penyangga alami dilepaskan untuk perluasan industri dan usaha. Paradigma pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa keseimbangan lingkungan membuat risiko banjir meningkat setiap tahun. Ironisnya, kita baru tersadar ketika air sudah setinggi dada.

Yang jarang dibicarakan adalah kegagalan kolektif dalam mengelola kota dan ruang kehidupan. Pemerintah daerah sering menggemborkan proyek-proyek besar, tetapi abai pada hal yang paling mendasar.  Seperti sistem drainase yang layak, revitalisasi sungai, dan penegakan hukum atas perusakan lingkungan.

Di sisi lain, masyarakat ikut menambah masalah melalui kebiasaan membuang sampah sembarangan, menutup lahan resapan, dan membangun rumah di daerah yang jelas-jelas rawan banjir. Suatu bencana sebenarnya bukan hanya datang dari langit, namun buah dari keputusan manusia yang terus mengabaikan peringatan alam.

Namun menyalahkan satu pihak saja tidak produktif. Yang kita butuhkan saat ini adalah kesadaran bahwa banjir bukanlah “musibah tahunan”, melainkan dampak langsung dari pilihan pembangunan yang tidak ramah lingkungan.

Sehingga langkah preventif harus menjadi prioritas dengan cara memperluas ruang terbuka hijau, menghentikan alih fungsi lahan yang tidak terkendali, memperbaiki drainase kota, serta mengembalikan sungai pada fungsi ekologisnya. Kebijakan ini harus berjalan berdampingan dengan edukasi masyarakat, karena tanpa perubahan perilaku masyarakat, upaya struktural tidak akan membuahkan hasil.

Indonesia sebenarnya punya ada contoh baik kota yang berhasil mengurangi banjir melalui revitalisasi sungai, dengan  teknologi pemetaan risiko, dan penguatan peraturan tata ruang, Seperti Jawa Tengah misalnya. Jika praktik-praktik ini diterapkan secara konsisten di seluruh daerah, banjir tidak perlu lagi menjadi bencana yang selalu berulang.

Pada akhirnya, banjir yang melanda seluruh Indonesia adalah cerminan dari kelalaian kita sendiri. Kita tidak bisa lagi menunggu musim hujan berikutnya untuk bereaksi. Saat pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, menetapnya fondasi utama pembangunan. Jika tidak, setiap tahun kita akan menulis kisah yang sama,  air naik, rumah terendam, dan duka tenggelamnya masyarakat bersama derasnya arus.

Untuk mencegah banjir agar tidak terus terjadi, diperlukan sejumlah sarana fisik dan infrastruktur yang mampu mengatur aliran air, meningkatkan daya serap tanah, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Salah satu sarana utama adalah sistem drainase yang memadai, karena saluran air yang bersih, lebar, dan tersambung dengan baik akan membantu air hujan mengalir cepat tanpa menumpuk di permukiman. Selain drainase, keberadaan sumur resapan di lingkungan rumah, kantor, dan fasilitas umum juga sangat penting. Sumur ini berfungsi mengembalikan air hujan ke dalam tanah sehingga limpasan permukaan bisa berkurang secara signifikan.

Upaya pencegahan banjir juga membutuhkan kolam retensi dan kolam detensi yang berfungsi menampung air ketika curah hujan tinggi. Kolam tersebut akan menjaga agar volume air yang masuk ke sungai tidak melampaui kapasitasnya. Di sisi lain, sungai yang menjadi jalur alami aliran air perlu dinormalisasi, baik melalui pengerukan sedimen, pelebaran alur, maupun pembersihan dari sampah yang dapat menghambat aliran. Normalisasi ini juga harus ditunjang oleh pembangunan tanggul sungai dan pintu air yang berfungsi mengatur debit air agar tidak meluap ke permukiman.

Selain infrastruktur air, keberadaan ruang terbuka hijau juga menjadi sarana penting dalam pencegahan banjir. Vegetasi dan tanaman berfungsi menyerap air hujan, menahan aliran air dipermukaan, serta memperbaiki kualitas tanah. Upaya ini harus dibarengi dengan sistem pengelolaan sampah yang baik, karena drainase yang tersumbat oleh sampah adalah penyebab paling sering terjadinya banjir, khususnya di daerah perkotaan. Di wilayah tertentu, pembangunan bendungan dan embung dapat menjadi solusi tambahan untuk menahan air hujan dan mengalirkannya secara bertahap, sehingga tidak memberikan tekanan berlebih pada sungai.

Beberapa kota juga mulai menggunakan saluran bawah tanah atau sistem drainase terpadu untuk menampung dan menyalurkan air dalam skala besar. Infrastruktur hijau seperti biopori, taman atap, dan jalan berpermukaan permeabel semakin diperhatikan karena mampu mengurangi limpasan air dan membantu penyerapan kembali ke dalam tanah. Keseluruhan sarana ini, ketika bekerja secara terpadu, menjadi fondasi penting untuk memastikan banjir dapat dicegah dan tidak terus berulang setiap musim hujan***

Baca Juga !
Tinggalkan komentar