Kemdiktisaintek Kolaborasi dengan ESDM Percepat Transisi Energi RI

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) Kementerian ESDM dalam upaya akselerasi transisi energi di Indonesia.
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui Program Renewable Energy Skills Development (RESD) merupakan kemitraan bilateral antara Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dengan Pemerintah RI yang bertujuan untuk memperkuat transisi energi Indonesia dengan memastikan ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, berkualitas, dan mampu mendukung desain, instalasi, operasi, dan pemeliharaan energi terbarukan di Indonesia.
“Program Renewable Energy Skills Development ini sangat strategis. Program ini tidak hanya mencakup pengembangan kurikulum, tetapi juga membangun sistem pendidikan vokasi energi terbarukan yang terhubung langsung dengan dunia usaha dan dunia industri, serta berorientasi pada keterserapan lulusan,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek Khairul Munadi melalui keterangan di Jakarta, Kamis.
Dirjen Dikti memandang RESD sebagai model konkret pendidikan tinggi yang berdampak.
Ia menyebut program ini memperkuat pendidikan vokasi sebagai engine of applied skills melalui penyelarasan kurikulum dengan dunia usaha dan dunia industri, serta penguatan ekosistem keterampilan hijau atau green skills secara nasional.
Dirjen Khairul mengapresiasi peningkatan kapasitas dosen dan instruktur melalui dukungan universitas terapan di Swiss, serta penyelenggaraan Program Diploma 4 spesialisasi energi terbarukan di politeknik negeri.
“Kolaborasi nasional maupun internasional yang dirancang dengan baik dan sistematis dinilai mampu menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar memenuhi dokumen kerja sama,” ujar Khairul Munadi.
Lebih lanjut, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) Prahoro Yulijanto Nurtjahyo memaparkan program ini diinisiasi bermitra dengan industri.
Ia menekankan pendidikan vokasi harus berjalan bersama industri agar relevan dengan kebutuhan di lapangan. Ke depan, ekspektasinya akan menghasilkan lebih dari 900 lulusan sarjana terapan.
“Komitmen Pemerintah Swiss bukanlah komitmen yang baru, melainkan telah terbangun selama lebih dari 50 tahun. Semua pihak sepakat bahwa pendidikan vokasi terbaik ada di Swiss, sehingga kemitraan ini memiliki dasar yang kuat. Kerja sama dengan Ditjen Dikti kami harap mengakselerasi transisi energi menuju target Net Zero Emissions 2060 atau lebih cepat,” tutur Prahoro Yulijanto.
Diketahui, RESD terdiri pada tiga komponen strategis yaitu pendidikan formal melalui politeknik, pendidikan nonformal melalui lembaga atau balai pelatihan, serta komunikasi dan informasi.
RESD Fase 1 dilaksanakan dari Desember 2020 hingga Juli 2025, telah berhasil menyusun kurikulum energi terbarukan berbasis industri serta mendukung pendirian dan penyelenggaraan program studi Diploma 4 Spesialisasi Energi Terbarukan di 5 (lima) politeknik negeri.
Selain itu, RESD mendukung penyusunan kurikulum berbasis kompetensi dan penyelenggaraan Program Pelatihan Teknisi PLTS, Teknisi Hybrid PLTS-Diesel, dan Teknisi PLTMH pada 4 (empat) balai pelatihan dan produktivitas (BPVP) di Indonesia.
Seluruh kegiatan tersebut dikembangkan dengan dukungan teknis dari universitas terapan Swiss (FHNW dan OST) dan Swiss Federal Institute for Vocational Education.(ds/antara)