Kadin Nilai Jasa Pendidikan hingga Industri Optimistis Hadapi Tekanan

Listen to this article
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian dalam konferensi pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Jakarta, Jumat (24/4/2026) (ds/ANTARA/AMuzdaffar Fauzan)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai sejumlah sektor usaha seperti informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, serta industri pengolahan masih menunjukkan optimisme kuat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global pada awal 2026.

 

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian di Jakarta, Jumat, menyampaikan bahwa hasil survei Business Pulse kuartal I 2026 menangkap dinamika sentimen pelaku usaha yang cenderung menurun, namun tetap menunjukkan keyakinan kuat di sektor-sektor tertentu.

 

“Sektor yang paling optimis itu ada tiga, informasi komunikasi, jasa pendidikan dan industri pengolahan, itu paling optimis daripada yang lain,” katanya.

 

Ia memaparkan tahun 2026 diawali dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari gangguan rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, hingga tekanan nilai tukar. Kondisi ini turut memengaruhi persepsi dunia usaha terhadap kinerja bisnis.

 

Survei yang dilakukan pada pertengahan Maret hingga awal April 2026 terhadap 210 anggota Kadin di 27 provinsi menunjukkan adanya penurunan sentimen bisnis dibandingkan kuartal sebelumnya.

 

Proporsi pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis membaik turun dari 39,3 persen menjadi 25,2 persen, sementara yang menilai kondisi memburuk meningkat menjadi 40,5 persen.

 

Fakhrul menjelaskan tekanan tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan, kenaikan biaya operasional, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

 

Selain itu, disampaikan dia, sektor jasa pendidikan, akomodasi, serta industri pengolahan juga tercatat memiliki rencana investasi yang relatif lebih tinggi dibanding sektor lainnya. Ketiga sektor tersebut dinilai lebih adaptif dan tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak geopolitik.

 

Sebaliknya, sektor seperti perdagangan besar, jasa perusahaan, serta pertambangan dan penggalian menunjukkan tingkat pesimisme yang lebih tinggi.

 

Hal ini antara lain dipengaruhi oleh tekanan rantai pasok serta perubahan kebijakan pemerintah.

 

Dari sisi tantangan, survei mencatat adanya peningkatan signifikan persepsi terhadap kebijakan pemerintah sebagai tantangan bisnis, dari hanya 0,3 persen pada kuartal sebelumnya menjadi 16,7 persen.

 

Sejumlah isu yang disorot antara lain perubahan kebijakan lingkungan, subsidi energi, hingga regulasi sektoral.

 

Di tengah tekanan tersebut, pelaku usaha cenderung mengambil langkah hati-hati, termasuk menahan ekspansi dan lebih fokus menjaga likuiditas. Ini tercermin dari penurunan rencana investasi dari 47 persen menjadi 38,9 persen

 

Namun, tingkat kesiapan pelaku usaha dalam menghadapi risiko geopolitik tergolong cukup baik. Sebanyak 36 persen responden menyatakan siap menghadapi konflik global, sementara 32 persen menilai kondisi biasa saja.

 

Adapun kebutuhan utama dunia usaha saat ini adalah dukungan pemerintah, terutama dalam bentuk subsidi dan insentif fiskal, serta kemudahan akses pembiayaan guna menjaga stabilitas bisnis.

 

Kadin menilai arah kebijakan pemerintah yang konsisten serta stabilitas harga energi akan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kepercayaan pelaku usaha ke depan.

 

Selain itu, keterbukaan pasar global dan pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan juga menjadi sumber optimisme baru.(ds/Antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar