Gubernur Jabar: Kirab Budaya Cirebon Hubungkan Sejarah dan Masa Depan

Listen to this article
Suasana pelaksanaan Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran di Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/5/2026). (ds/ANTARA/Fathnur Rohman.)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, CIREBON – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran yang digelar di Kota Cirebon menjadi upaya menghubungkan sejarah masa lalu dengan pembangunan masa depan.

 

“Yang paling utama bukan untuk membangun cerita masa lalu, tetapi membangun jembatan masa lalu dan masa depan,” kata Dedi saat memberikan sambutan di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, Minggu malam.

 

Menurut dia, masyarakat tidak bisa hanya berbicara tentang masa depan tanpa memahami sejarah dan filosofi budaya yang diwariskan para leluhur.

 

Ia mengatakan sejarah menjadi bagian penting, dalam membangun karakter bangsa dan menghadapi tantangan zaman.

 

“Maka kegiatan ini bukan kegiatan seremonial, bukan kegiatan historikal tapi kegiatan masa depan,” katanya.

 

Provinsi Jabar, kata dia, memiliki kekayaan budaya yang masih terlihat melalui keberadaan keraton, tradisi masyarakat, hingga peninggalan sejarah Pajajaran.

 

Ia menekankan Mahkota Binokasih dan sejumlah situs sejarah menjadi bukti bahwa Pajajaran, merupakan bagian dari fakta sejarah yang masih hidup hingga sekarang.

 

“Pajajaran itu memang ada dan tidak akan pernah pudar dimakan oleh zaman,” ujarnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Dedi menyampaikan pula bahwa Cirebon menjadi daerah yang mampu memadukan nilai agama, budaya, dan sejarah secara harmonis.

 

Ia mengatakan kehidupan masyarakat di Cirebon mencerminkan keterbukaan budaya, yang diwariskan para wali dan keraton sejak masa lampau.

 

Dedi menyebut berbagai warisan budaya dan tradisi keagamaan di Cirebon masih bertahan hingga sekarang, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan tradisi Adzan Pitu.

 

“Cirebon sesungguhnya adalah mini pluralisme Indonesia. Kalau dalam bahasanya para pakar, Cirebon mengajarkan tentang Islam inklusif,” katanya.

 

Ke depan, ia telah menyiapkan rencana penataan kawasan budaya di sekitar keraton Cirebon agar lebih bersih, tertata, dan memiliki daya tarik wisata sejarah.

 

“Kalau keraton ini tertata rapi, jalan-jalannya bersih, trotoarnya terbentang indah, sungai-sungainya jernih, kemudian antara sungai dengan keraton tersambung lagi dengan laut maka peradaban akan terbangun,” tuturnya.(ds/Antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar