BMKG Gelar Sekolah Lapang Gempa di Kolut Perkuat Mitigasi Bencana

DINAMIKA SULTRA.COM, KOLUT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) Tahun 2026 guna memperkuat mitigasi daerah dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gempa bumi di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra).
“Kabupaten Kolaka Utara berada di kawasan yang memiliki potensi aktivitas kegempaan, sehingga penguatan mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh,” kata Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu usai membuka SLG tahun 2026 di Kolut, Minggu.
Ia menjelaskan berdasarkan peta sebaran sesar di wilayah tersebut mencatat sekitar 13 sesar yang memiliki potensi dan kekuatan magnitudo berbeda-beda. Berdasarkan pengalaman kejadian pada 2025, sumber gempa berada di satu daerah namun getarannya dapat dirasakan hingga wilayah lain.
Oleh karena itu, BMKG mendorong Pemkab Kolut untuk memperluas edukasi kebencanaan hingga tingkat desa dan kelurahan, menyempurnakan sistem kesiapsiagaan, serta mulai menerapkan budaya membangun rumah tahan gempa.
“Sebagai tindak lanjut SLG yang diselenggarakan melalui Stasiun Geofisika Kendari ini, BMKG merekomendasikan Kelurahan Lasusua dan Desa Patowonua untuk melengkapi indikator masyarakat siaga bencana,” ujarnya.
Ia mengungkapkan langkah tersebut mencakup sosialisasi peta skenario guncangan, pembaruan data penduduk kawasan rawan, perbaikan jalur dan rambu evakuasi, penyusunan dokumen kedaruratan, hingga pelaksanaan simulasi gempa secara berkala.
Bupati Kolaka Utara Nurrahman Umar berharap, seluruh peserta dapat menjadi penyambung informasi di lingkungan masing-masing agar budaya sadar bencana semakin tumbuh.
“Kita tidak bisa menghindari bencana alam, tetapi kita bisa mengurangi risikonya melalui pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kolaborasi,” katanya.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kolut A Agus Zakaria menyatakan kesiapan menindaklanjuti seluruh rekomendasi BMKG melalui penguatan program mitigasi bencana di daerah.
Pihaknya juga akan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat, memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan, kelurahan, dan desa, serta mendorong pelaksanaan simulasi secara berkala agar kesiapsiagaan masyarakat semakin baik.
“Mitigasi bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar setiap orang memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” katanya.
Kegiatan diikuti 64 peserta dari unsur BPBD, perangkat daerah, aparat keamanan, pihak sekolah, media, hingga elemen masyarakat.(ds/Ono)