DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Komitmen untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak kembali didorong oleh Fakultas Hukum (FH) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat.
Tim Pengabdian FH UHO menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan di SMA Negeri 2 Konawe Selatan dan SMP Negeri 1 Kendari beberapa waktu lalu.
Ketua Tim pengabdian, Laode Muhamad Sulihin mengatakan bahwa kegiatan bertema “Peningkatan Pemahaman tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Sekolah”.
Melalui kegiatan ini dosen ingin mengajak para siswa, guru, dan tenaga kependidikan memahami bentuk-bentuk kekerasan yang kerap luput dari perhatian.
Mulai dari ejekan verbal, perundungan, hingga tindakan fisik dan pelanggaran privasi.
“Dampak psikologis, sosial, dan akademik yang ditimbulkan, sekaligus memperkenalkan peran penting Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) serta alur pelaporan sesuai Permendikbudristek No 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan,” ujarnya.
Muhamad Sulihin menekankan, sekolah bukan hanya tempat belajar tetapi juga ruang untuk bertumbuh dengan rasa aman.
“Kami ingin para siswa berani bersuara ketika melihat atau mengalami kekerasan. Pencegahan bukan sekadar aturan di atas kertas, tetapi tanggung jawab kolektif semua warga sekolah. Melalui sosialisasi ini, kami berharap tercipta budaya saling menghormati dan mendukung agar tidak ada satupun anak yang belajar dalam ketakutan,” katanya.
Ia menyebut bahwa kepala sekolah dan guru pendamping dari kedua sekolah menyampaikan apresiasi dan berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke sekolah-sekolah lain.
“Mereka menilai, pemahaman siswa tentang hak dan kewajiban serta mekanisme pelaporan sangat penting untuk memutus rantai kekerasan di lingkungan pendidikan,” ucapnya.
Muhamad Sulihin menambahkan, melalui kegiatan pengabdian ini, FH UHO menegaskan perannya bukan hanya sebagai lembaga akademik tetapi juga mitra masyarakat dalam membangun kesadaran hukum dan melindungi generasi muda.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Sulawesi Tenggara untuk memperkuat TPPK, memperluas edukasi, dan mewujudkan budaya pendidikan yang bebas kekerasan,” Tutup Muhamad Sulihin.(Humas-UHO)