KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama para akademisi dan pegiat budaya menggelar kegiatan bedah buku berjudul Budaya dan Sejarah Buton dalam Diaspora Nusantara. Buku ini ditulis oleh sebelas orang penulis, antara lain Asrun Lio, Laode Abdul Munafi, Laode Alirman, Dinna Dayana Malim, Susanto Zuhdi, Zumi Kudus, Haeruddin, Tasrifin Tahara, Hasaruddin, Rustam Awat, serta Munawir.
Dr. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D dalam kapasitasnya sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, Rabu (2/10/2025) saat membuka kegiatan bedah buku yang berlangsung di Aulah Perpustakaan Daerah Provinsi Sultra, menyebut kehadiran buku berjudul “Budaya dan Sejarah Buton dalam Diaspora Nusantara” menjadi momentum penting untuk memperkaya literasi sejarah dan budaya masyarakat Buton.
“Kita baru saja membuka acara bedah buku di perpustakaan. Buku yang menjadi pembahasan kali ini berjudul Budaya dan Sejarah Buton dalam Diaspora Nusantara. Hadir pula penulis utama dari buku ini, Prof. Susanto Zuhdi, yang juga dikenal sebagai salah satu ketua tim penulis Buku Sejarah Indonesia,” ujarnya.
Menurut Asrun, kehadiran Prof. Susanto Juhdi memberi kesempatan berharga bagi peserta untuk mendengar langsung penjelasan tentang isi buku tersebut. Sebagai salah satu editor, ia menilai karya ini sarat makna dan memperlihatkan bagaimana eksistensi orang Buton dalam diaspora di berbagai wilayah Nusantara.
Ia menjelaskan, masyarakat Buton yang merantau tidak sekadar hadir di daerah baru, tetapi juga membentuk komunitas yang berkontribusi besar bagi pembangunan. Dari Sabang sampai Merauke, bahkan hingga mancanegara, orang Buton tercatat mampu menjaga identitas budaya sekaligus beradaptasi dengan lingkungan setempat.
Kepala Dinas Perpustakaan Sultra, Hj. Usnia, Amd.Keb., SKM, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar agenda literasi, melainkan upaya memperkenalkan budaya Sultra secara luas. “Bedah buku ini penting agar budaya-budaya di Sultra dikenal, bukan hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga nasional bahkan internasional,” ungkapnya.
Usnia menambahkan, saat ini fokus kajian pada budaya Buton. Namun ke depan, pihaknya berkomitmen mengangkat budaya lain di Sulawesi Tenggara seperti budaya Tolaki, Murnene, dan Muna. Dengan dukungan para pakar, ia berharap warisan budaya Sultra dapat terdokumentasi secara sistematis dan mudah dipahami.
“Proses penyusunan buku ini memakan waktu sekitar dua hingga tiga tahun. Harapan kami sederhana, agar masyarakat semakin mengenal sejarah dan budaya yang menjadi identitas bersama. Semoga nantinya seluruh budaya di Sultra dapat dibukukan dan dibedah,” katanya.
Sementara itu, Prof. Susanto Zuhdi, salah satu penulis sekaligus narasumber, menyoroti peran besar orang Buton sebagai pelaut dan perantau ulung. Ia menyebut, jika berbicara soal etnik maritim, publik sering mengingat Bugis, Makassar, dan Mandar, padahal etnik Buton juga punya kontribusi signifikan.(ds/ono)