Prof. Hanna Jadi Pembicara Dalam Konferensi Internasional di Malaysia

Listen to this article
Prof. Dr. Hanna, M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UHO Kendari. (Humas-UHO)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Untuk keempat kalinya, Institut Aminuddin Baki Malaysia melaksanakan konferensi internasional tentang kepemimpinan sekolah bertajuk “The 4th International Conference on Educational Leadership and Management”.

Kegiatan ini akan berlangsung pada tanggal 27–29 Oktober 2025 di Kampus Enstek, Negeri Sembilan, Malaysia.

Para pakar dari berbagai negara berkumpul dan berdiskusi mengenai isu-isu kepemimpinan pendidikan. Salah satu nara sumber yang diundang dalam pertemuan tersebut adalah Prof. Dr. Hanna, M.Pd., dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Halu Oleo, yang membawakan topik tentang kepemimpinan pendidikan di daerah terpencil.

Menurut Prof. Hanna, pendidikan tidak hanya mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan sains, tetapi juga membentuk karakter individu agar menjadi pribadi bijak dan sadar akan potensi yang dimilikinya.

“Pendidikan harus memperkuat tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan spiritual dalam pengembangan holistik individu,” ujar Prof. Hanna.

Lebih lanjut, pendidikan merupakan bentuk fasilitas yang diberikan negara kepada warga negaranya. Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, negara memberikan hak pendidikan kepada setiap individu sebagai warga negara.

Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjamin pemerataan akses pendidikan dengan mutu yang setara.

Namun, kenyataannya banyak daerah terpencil di Indonesia yang belum memiliki kualitas pendidikan setara dengan kota-kota besar. Faktor utama penyebab ketimpangan pendidikan bersumber dari beberapa permasalahan mendasar, yaitu: pertama, Keterbatasan akses dan infrastruktur pendidikan yang memadai.

Kedua, Jarak geografis antarpulau yang jauh, sehingga sekolah hanya dapat dijangkau melalui jalur laut.

Ketiga, Hambatan sosial dan budaya, seperti konstruksi sosial yang menganggap pendidikan tidak penting.

Keempat, Kekurangan guru yang ahli di bidangnya, sehingga satu guru sering mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus.

Kelima, Fenomena selektivitas guru dalam menentukan tempat mengajar. Mayoritas guru memilih mengajar di wilayah perkotaan, sedangkan sangat sedikit yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil.

“Kondisi ini mengakibatkan guru-guru yang berkualifikasi tinggi lebih banyak ditemukan di kota-kota besar,” jelasnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai dengan kondisi demografis, ekonomi, politik, sosial-budaya, dan geografisnya.

Hal ini juga berlaku bagi daerah-daerah terpencil dan kurang berkembang di Indonesia, atau yang dikenal dengan istilah daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Prof. Hanna menjelaskan, faktor-faktor tersebut mepengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Penempatan guru yang tidak sesuai bidang keahliannya menyebabkan kurangnya kreativitas pembelajaran, sehingga perlu adanya dorongan untuk pengembangan profesional dan promosi kesetaraan pendidikan.

Dari sisi penilaian akademik, kata dia, sekolah diharapkan mampu mengukur kinerja siswa dengan cara yang lebih komprehensif.

Meskipun tes standar dapat memberikan gambaran mengenai prestasi siswa, banyak pemimpin pendidikan menyerukan perlunya perancangan ulang sistem penilaian.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pendekatan budaya “bersatu” atau “menyatukan pikiran,” yang mengacu pada nilai-nilai kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan.

Pendekatan ini dapat diartikan sebagai gerakan atau kegiatan yang bersifat inspiratif, produktif, kolaboratif, dan sosial- mungkin inilah konsep yang disebut dengan “Mepokoaso.” (ds/adf)

 

 

#kendariFKIP UHOProf. HannaUHO
Comments (0)
Add Comment