Saatnya UMKM Naik Kelas Lewat Literasi Keuangan yang Cerdas

Listen to this article
Bupati Kabupaten Banyuwangi Ipuk Fiestiandani (kedua dari kiri) mendukung lokakarya literasi keuangan, pada 6-7 Agustus menjelang hari UMKM Nasional. (ds/ANTARA/HO-CPA Australia)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Awal Agustus 2025 menjadi momen berbeda bagi tiga puluh pelaku UMKM di Banyuwangi. Selama dua hari penuh, mereka duduk di ruangan yang sama, saling berbagi cerita usaha, bertanya, dan mencoba memahami hal yang selama ini kerap mereka lewatkan, apalagi kalau bukan soal keuangan yang terkelola dengan benar.

Tidak ada teori rumit yang membuat kening berkerut. Yang dibicarakan justru hal-hal yang mereka temui setiap hari yaitu menghitung pengeluaran yang kadang tak tercatat, menjaga arus kas agar tidak tersendat, sampai mengenali sumber pembiayaan yang selama ini terdengar asing.

Ini pengalaman yang pasti baru dan berbeda bagi mereka, sebab setelah ini berlalu, mereka diharapkan menjadi pelaku usaha yang benar-benar paham urgensi manajemen keuangan yang profesional dan terkelola dengan rapi.

Peserta lokakarya ini memang sudah dipilih dengan pertimbangan mereka punya dasar pengetahuan yang cukup. Karena itu, pembahasan bisa langsung mengupas masalah nyata yang relevan.

Kegiatan ini lahir dari kerja sama Kementerian Keuangan RI, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan CPA Australia, .

Dari pihak kementerian, hadir Direktorat Stabilitas Sistem Keuangan dan Sinkronisasi Kebijakan Sektor Keuangan yang memaparkan beragam opsi pembiayaan.

Bagi banyak pelaku usaha kecil, ini bukan sekadar daftar pinjaman, tetapi pengetahuan untuk menimbang mana yang aman dan mana yang berisiko.

Sebab sampai sejauh ini banyak UMKM yang mengakses modal tapi sekadar berani meminjam semata. Belum sampai pada pengetahuan tentang mana yang aman, mana yang berisiko, dan bagaimana mengelolanya agar tak menjadi beban di kemudian hari.

Banyuwangi dipilih bukan kebetulan. Daerah ini sudah lama dikenal sebagai salah satu rumah bagi UMKM kreatif mulai dari kuliner tradisional, kopi, hingga kerajinan tangan. Di pasar, di gang-gang kampung, geliatnya terasa.

Siti Rofiah, pemilik usaha makanan ringan, mengatakan pelatihan ini seperti membuka ruang baru. “Saya jadi lebih yakin untuk mencoba langkah yang selama ini ragu saya ambil,” ujarnya.

Baginya, mengerti soal keuangan bukan cuma soal mencatat angka, tetapi juga soal keberanian mengambil keputusan untuk berkembang.

Bagi CPA Australia, inilah kali pertama mereka terjun langsung menggelar pelatihan bagi UMKM di Indonesia. Organisasi ini memang telah lama aktif di kawasan ASEAN dan mendukung profesi akuntansi di Indonesia sejak 2011, tetapi fokus pada UMKM menjadi langkah baru.

Kepala Regional CPA Australia untuk Asia Tenggara, Priya Terumalay, menyebut kolaborasi ini selaras dengan upaya memperkuat kapasitas finansial di kawasan. Menurutnya, pelaku UMKM Indonesia memiliki potensi besar jika dibekali panduan yang tepat.

Optimisme ini didukung data. Survei Tahunan Usaha Kecil Asia-Pasifik oleh CPA Australia mencatat, 2024 menjadi tahun dengan prospek pertumbuhan terbaik dalam lima tahun terakhir.

Sebanyak 83 persen pelaku usaha kecil di Indonesia melaporkan pertumbuhan positif, sebagian besar digerakkan oleh generasi muda yang akrab dengan teknologi. Potensi itu ibarat bara yang sudah menyala, yang diperlukan adalah cara menjaga nyalanya.

 

Daya Saing UMKM

Menurut Risyaf Fahreza, Kepala Subdirektorat Program dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Stabilitas Sistem Keuangan dan Sinkronisasi Kebijakan Sektor Keuangan Kemenkeu, lokakarya seperti ini bagian dari prioritas nasional memperkuat daya saing UMKM.

Pemerintah paham bahwa produk yang bagus dan strategi pemasaran yang kreatif saja belum cukup; pengelolaan keuangan yang sehat adalah kunci agar usaha bisa bertahan menghadapi badai.

Kolaborasi lintas pihak, menurutnya, menjadi jembatan untuk menciptakan transformasi ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.

Nada yang sama datang dari Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Nanin Oktaviantie.

Ia menilai pemahaman keuangan akan membuat pelaku usaha lebih siap menghadapi pasar yang semakin terbuka. Bukan hanya soal angka, tetapi membentuk pelaku usaha yang berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Hasil dari pelatihan semacam ini memang jarang langsung terlihat dalam bentuk lonjakan omzet atau pembukaan cabang baru.

Tapi benih yang ditanam berupa kepercayaan diri, kesadaran mengelola arus kas, dan keberanian mencoba jalur pembiayaan yang tepat akan tumbuh seiring waktu.

Satu UMKM yang lebih sehat secara finansial bisa mempengaruhi banyak hal termasuk tenaga kerja yang lebih terjamin, keluarga yang lebih mapan, hingga kontribusi yang lebih kuat bagi perekonomian lokal.

Yang penting, langkah seperti ini tidak berhenti pada satu lokasi atau satu kali kegiatan. Literasi keuangan untuk UMKM seharusnya menjadi upaya berkelanjutan.

Setiap daerah bisa memiliki program pendampingan rutin, di mana pelaku usaha belajar dari pengalaman satu sama lain, memanfaatkan teknologi untuk mengakses materi pembelajaran daring, dan memperoleh informasi pembiayaan yang terbaru.

Dalam rangka merayakan Hari UMKM Nasional pada 12 Agustus 2025, pelatihan di Banyuwangi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan ekonomi Indonesia ada di tangan mereka yang bekerja tanpa banyak sorotan, membangun usaha dari nol, menjaga pelanggan, dan bertahan meski situasi sulit.

Mereka bukan sekadar angka dalam laporan statistik, tapi mereka adalah wajah-wajah yang ingin terus bergerak maju.

Literasi keuangan memberi mereka bekal bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk berkembang dan bersaing. Bila gerakan ini terus meluas, negeri ini bisa membayangkan masa depan di mana UMKM Indonesia tidak hanya menjadi penopang ekonomi nasional, tetapi juga pemain yang diperhitungkan di pasar dunia.

Dan sering kali, semua itu dimulai dari hal sederhana seperti duduk bersama, belajar, dan membagi pengetahuan yang bisa mengubah arah hidup seseorang.

Menurut Risyaf Fahreza, Kepala Subdirektorat Program dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Stabilitas Sistem Keuangan dan Sinkronisasi Kebijakan Sektor Keuangan Kemenkeu, lokakarya seperti ini bagian dari prioritas nasional memperkuat daya saing UMKM.

Pemerintah paham bahwa produk yang bagus dan strategi pemasaran yang kreatif saja belum cukup; pengelolaan keuangan yang sehat adalah kunci agar usaha bisa bertahan menghadapi badai.

Kolaborasi lintas pihak, menurutnya, menjadi jembatan untuk menciptakan transformasi ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.

Nada yang sama datang dari Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Nanin Oktaviantie.

Ia menilai pemahaman keuangan akan membuat pelaku usaha lebih siap menghadapi pasar yang semakin terbuka. Bukan hanya soal angka, tetapi membentuk pelaku usaha yang berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Hasil dari pelatihan semacam ini memang jarang langsung terlihat dalam bentuk lonjakan omzet atau pembukaan cabang baru.

Tapi benih yang ditanam berupa kepercayaan diri, kesadaran mengelola arus kas, dan keberanian mencoba jalur pembiayaan yang tepat akan tumbuh seiring waktu.

Satu UMKM yang lebih sehat secara finansial bisa mempengaruhi banyak hal termasuk tenaga kerja yang lebih terjamin, keluarga yang lebih mapan, hingga kontribusi yang lebih kuat bagi perekonomian lokal.

Yang penting, langkah seperti ini tidak berhenti pada satu lokasi atau satu kali kegiatan. Literasi keuangan untuk UMKM seharusnya menjadi upaya berkelanjutan.

Setiap daerah bisa memiliki program pendampingan rutin, di mana pelaku usaha belajar dari pengalaman satu sama lain, memanfaatkan teknologi untuk mengakses materi pembelajaran daring, dan memperoleh informasi pembiayaan yang terbaru.

Dalam rangka merayakan Hari UMKM Nasional pada 12 Agustus 2025, pelatihan di Banyuwangi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan ekonomi Indonesia ada di tangan mereka yang bekerja tanpa banyak sorotan, membangun usaha dari nol, menjaga pelanggan, dan bertahan meski situasi sulit.

Mereka bukan sekadar angka dalam laporan statistik, tapi mereka adalah wajah-wajah yang ingin terus bergerak maju.

Literasi keuangan memberi mereka bekal bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk berkembang dan bersaing. Bila gerakan ini terus meluas, negeri ini bisa membayangkan masa depan di mana UMKM Indonesia tidak hanya menjadi penopang ekonomi nasional, tetapi juga pemain yang diperhitungkan di pasar dunia.

Dan sering kali, semua itu dimulai dari hal sederhana seperti duduk bersama, belajar, dan membagi pengetahuan yang bisa mengubah arah hidup seseorang.(ds/antara)

 

 

 

JakartaLiterasi KeuanganUMKM
Comments (0)
Add Comment