DINAMIKA SULTRA.COM, KOLAKA – Tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di puskesmas di Kabupaten Kolaka, Sultra mengikuti pelatihan basic trauma cardiac life support (BTCLS) guna memperkuat penanganan gawat darurat pada masyarakat setempat.
Kepala Puskesmas Pomalaa dr Alriyani Hamzah saat ditemui di Kolaka, Jumat, mengatakan bahwa pelatihan BTCLS tersebut diikuti empat puskesmas di Kolaka, yaitu Puskesmas Wundulako, Tanggetada, Baula, dan Pomalaa, yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam menangani kegawatdaruratan.
“Untuk peserta di setiap Puskesmas itu berkisar 5-10 orang,” katanya.
Menurut Alriyani, pelatihan BTCLS tersebut sangat penting untuk diikuti oleh tenaga kesehatan karena ini adalah penanganan kasus-kasus kegawatdaruratan, termasuk kecelakaan dan serangan jantung.
“Yang namanya satu detik saja kita bisa menyelamatkan berarti harapan hidup lebih besar. Nah, kalau kita tidak punya kemampuan itu, akan banyak berjatuhan korban. Jadi, dengan BTCLS dari Tenggetada sampai Wundulako harapan kita lebih karena banyak penyelamat,” ujarnya.
Ia berharap bahwa ilmu yang diperoleh dari training tersebut dapat diterapkan oleh peserta di tempat kerja mereka masing-masing, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut.
“Dengan adanya training BTCLS ini dari PT Vale kami sangat bersyukur dan kami sangat terbantu, karena sebelumnya kegiatan ini (BTCLS) kalau kita mengikuti kegiatannya di luar itu berbayar. Dan kami sangat terbantu dengan program-programnya PT Vale,” ucap Alriyani.
Senada dengan itu, Sr. Occupational Health & Industrial Hygiene Analyst PT Vale IGP Pomalaa Aditya Hafria Vanani mengatakan bahwa training BTCLS ini, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di daerah tersebut, terutama di wilayah Kecamatan Wundulako, Tanggetada, Baula, dan Pomalaa, yang memiliki risiko kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi.
“Jadi, area Kecamatan Wundulako, Tanggetada, Baula, dan Pomalaa berada di jalan poros yang dimana risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas cukup tinggi, sedangkan kita melihat masih banyak tenaga kesehatan disini yang kompetensi training BTCLS-nya sudah kadaluwarsa sehingga kita membantu memfasilitasi itu agar kompetensi tenaga kesehatan dalam pertolongan kegawatdaruratan sehingga bisa menolong masyarakat,” katanya.
“Di sisi lain, juga ada keuntungan PT Vale apabila ada karyawan yang mengalami kecelakaan lalu lintas saat berkendara di tempat kerja itu bisa dibantu oleh tenaga kesehatan. Jadi, tujuannya mampu menolong masyarakat dan karyawan PT Vale sehingga simbiosis nya terjaga antara PT Vale dan masyarakat,” ungkapnya.
Aditya menyebutkan bahwa pada training BTCLS tersebut, pihaknya memberikan pemahaman dan keterampilan kepada peserta dalam menangani kasus-kasus kegawatdaruratan tersebut. Dengan demikian, tenaga kesehatan dapat memberikan pertolongan pertama yang tepat dan efektif pada masyarakat.
“Materinya itu, misalnya pertolongan serangan jantung, pertolongan cedera kepala, cedera bagian dada, patah tulang. Pada dasarnya kegawatdaruratan terkait masalah jantung dan benturan atau trauma yang umumnya terjadi pada kasus kecelakaan,” ujarnya.
BTCLS tersebut juga merupakan bagian dari program Environmental, Social, and Governance (ESG) PT Vale Indonesia dalam mendukung peningkatan kualitas, pelayanan, kegawatdaruratan medis, serta memperkuat kapasitas tenaga kesehatan sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan yang lebih cepat, tepat, dan profesional dalam situasi trauma maupun penyakit jantung.
Kepala Seksi Pembangunan Masyarakat Desa/Kelurahan Kecamatan Pomalaa Laode Ndikode, sangat mengapresiasi kegiatan BTCLS yang diselenggarakan oleh PT Vale dalam meningkatkan kapasitas tenaga medis untuk melayani masyarakat.
“Mudah-mudahan tenaga medis yang ada di kecamatan ini bisa bekerja maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.(ds/ono)