DINAMIKA SULTRA.COM, BANJARMASIN – Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI brsama Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mengedukasi pembuatan dan penggunaan jamu yang higienis, bermutu dan bermanfaat.
Ketua Tim Kerja Dukungan Manajemen Direktorat Produksi dan Distribusi Farmasi Kemenkes RI, Ismiyati, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, Diauddin, mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang luar biasa besar.
“Mengacu pada National Report to the Convention on Biological Diversity, Indonesia memiliki sekitar 31.750 spesies tumbuhan, namun yang dimanfaatkan sebagai tanaman obat baru sekitar 2.848 spesies,” katanya di Banjarbaru, Kamis.
Dikatakan, potensi ini sangat besar dan tersebar dari Sabang sampai Merauke.
“Selain tanaman, kita juga memiliki potensi bahan alam lain seperti hewan, jasa tirenik, dan mineral yang dapat dikembangkan menjadi obat bahan alam,” ungkapnya.
Untuk mendorong optimalisasi pemanfaatan obat bahan alam, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan sejumlah regulasi, di antaranya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang membuka peluang pengembangan obat bahan alam.
PP Nomor 3 dan PP Nomor 28 Tahun 2024, yang menegaskan bahwa obat bahan alam dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat maupun fasilitas pelayanan kesehatan.
Kemenkes juga telah mencanangkan Gerakan Nasional Budaya Sehat dengan Jamu (Gernas Dude Jamu) sejak 2015, yang terus digelorakan hingga kini. Bahkan pada 16 Desember 2023, UNESCO menetapkan budaya sehat jamu sebagai warisan budaya tak benda ke-13 Indonesia.
Ia menambahkan bahwa salah satu tanaman obat unggulan Indonesia yang saat ini tengah diangkat sebagai ikon adalah temulawak, yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Jamu adalah warisan budaya bangsa. Selain manfaat kesehatan, jamu juga memberikan kontribusi ekonomi dan sosial budaya. Karena itu, penting memastikan jamu dibuat dan digunakan secara aman, bermutu, dan bermanfaat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya edukasi kepada pelaku usaha jamu gendong, UMKM jamu racikan, hingga masyarakat umum agar tidak menggunakan bahan kimia berbahaya dalam pembuatan jamu.
Kadinkes Kalsel, Diauddin, menyampaikan bahwa Kalimantan Selatan memiliki kekayaan tanaman obat yang sangat melimpah, di antaranya bajakah, pasak bumi, dan berbagai tanaman khas lainnya.
“Masyarakat kita sejak dulu sangat akrab dengan jamu dan ramuan tradisional sebagai budaya hidup sehat. Ketika tidak enak badan, biasanya yang dicari pertama adalah ramuan tradisional sebelum pergi ke puskesmas atau rumah sakit,” tutur Diauddin.
Ia menambahkan bahwa perkembangan industri obat tradisional saat ini menghadapi tantangan untuk memastikan jamu diproduksi sesuai standar kesehatan.
“Jamu tidak bertentangan dengan kesehatan modern. Bahkan beberapa rumah sakit kini memiliki poli jamu atau poli pengobatan herbal,” jelasnya.
Diauddin juga membuka peluang untuk menghadirkan layanan pengobatan herbal tradisional di fasilitas kesehatan di Kalsel sebagai pilot project, bekerja sama dengan Perkumpulan Dokter Pengobatan Tradisional Indonesia.
Menurutnya, penting untuk memastikan jamu memiliki dosis dan cara pakai yang tepat.
Karena itu, melalui kegiatan edukasi ini, Dinkes Kalsel ingin memperkuat kapasitas masyarakat, pelaku UMKM, dan penggiat jamu agar mampu memproduksi jamu secara higienis, terstandar, serta bebas dari bahan berbahaya.
“Harapan kami, produk herbal dari Kalimantan Selatan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga dapat menasional bahkan mendunia,” ujarnya.
Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan tentang pembuatan dan penggunaan jamu yang aman, benar, serta bermanfaat untuk kesehatan keluarga. (ds/Antara)