DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI -Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang dirangkaikan dengan Bina Corps Rimbawan (BCR) XXI bagi mahasiswa angkatan 2024.
Kegiatan ini mengusung tema “Mempertahankan Nilai Budaya dan Agama untuk Pengelolaan Hutan Lestari bagi Mahasiswa Angkatan 2024 yang Bermartabat dan Berkarakter” dan diikuti oleh 138 peserta yang terdiri atas dosen pemateri, perwakilan instansi kehutanan, mahasiswa angkatan 2024, serta panitia.
Ketua Tim, La Ode Agus Salim, S.Hut., M.Sc., menyampaikan materi yang berjudul mempertahankan nilai budaya dan agama untuk pengelolaan hutan lestari bagi mahasiswa angkatan 2024 yang bermartabat dan berkarakter dalam Bina Corps Rimbawan XXI di FHIL UHO.
“Materi ini penting karena menghadapi arus globalisasi yang semakin cepat hampir tak berhijab lagi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa, informasi kondisi suatu wilayah di berbagai belahan dunia, sudah dapat diakses dari berbagai penjuru, bahkan di pelosok terpencil pun.
Sehingga, budaya bangsa lain yang tercermin melalui perilaku manusianya bisa disaksikan oleh generasi muda, aman tidak jarang dijumpai sikap dan perilaku pemuda sudah keluar dari budaya leluhur.
“Padahal kita ketahui bahwa nilai budaya lahir dari nilai-nilai Agama,” jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa, bila dikaitkan dengan kejadian-kejadian bencana alam akhir-akhir ini, seperti banjir yang menimpa beberapa wilayah yang ada di tanah air Indonesia meliputi: Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah menyebabkan tidak hanya korban harta dan benda, akan tetapi ribuan nyawa telah melayang ada yang ditemukan dan masih ada pula yang raib entah kemana.
“Hal ini disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang sudah tidak bersahabat dengan alam dan lingkungannya dalam hal ini hutan. Banyak hutan telah dibabat habis secara sporadis dengan adanya kegiatan pertambanga, alih fungsi lahan untuk perkebunan, pemukiman, perkantoran dan perdagangan, serta lainnya telah menyebabkan hutan kita menjadi rusak, hilangnya flora dan fauna termasuk mikro dan makro organisme,” ucapnya.
Ia menyebut bahwa, melalui pelatihan ini akan muncul para Rimbawan Muda yang berada di garda terdepan untuk menjaga dan melindungi hutan sebagai Maha Karya Allah SWT yang begitu besar kepada umat manusia dan makhluk hidup lainnya.
Manusia sebagai khalifatul fil ardhi (pemimpin di muka bumi), dihalalkan memanfaatkan alam beserta isinya, asalkan tidak berlebihan, namun sesuai dengan koridor alamiahnya.
“Seperti pemanfaatan hutan yang akan memberikan keuntungan secara ekonomi suatu wilayah dengan tetap menjaga dampak ekologisnya, tentunya wajib mengedepankan pengelolaan hutan lestari. Pengelolaan hutan lestari tidak saja melakukan kegiatan seperti: Forest Harvesting (Pemanenan Hasil Hutan), Forest Processing (Pengolahan Hasil Hutan), dan Forest Marketing (Pemasaran Hasil Hutan). Akan tetapi juga melakukan Forest Establishment (Pembangunan Hutan), dan Forest Culture (Pemeliharaan, penjagaan dan pengawasan hutan),” ucapnya.
Ia juga menerangkan bahwa, prinsip pengelolaan hutan dengan kegiatan seperti ini telah termanifestasikan dalam paradigma Timber Management (Manajemen Kebun Kayu).
“Masalah sosial ekonomi seperti pertambahan jumlah penduduk yang semakin pesat memberikan konsekuensi logis berupa semakin rendahnya rasio kepemilikan lahan pertanian; semakin meningkatnya kebutuhan pangan, kayu pertukangan, kayu bakar, dan hijauan makanan ternak. Bila tidak segera direspon, maka akan menimbulkan perambahan hutan, penebangan liar, dan alih fungsi lahan,” Tuturnya.(ds/adf)