Penyintas Banjir Aceh Utara Tempati Huntara Kayu Meski Tidak Ada Listrik

Listen to this article
Penyintas banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mulai menempati hunian sementara berbahan kayu di Aceh Utara, Selasa (27/1/2026). (ds/ANTARA/Harianto)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, ACEH UTARA – Penyintas banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mulai menempati hunian sementara berbahan kayu meski fasilitas dasar seperti listrik dan kamar mandi belum tersedia pascabencana banjir bandang.

 

Abdullah (58) warga Desa Geudumbak, mengatakan dirinya bersama istri dan dua anak telah menempati huntara kayu selama sepekan setelah sebelumnya mengungsi di tenda pengungsian sekitar satu bulan lebih.

 

“Sebelum masuk di huntara sini, saya bersama keluarga tinggal di tenda pengungsi,” kata Abdullah ditemui di Aceh Utara, Selasa (27/1/2026).

 

Rumah huntara kayu berukuran 6×6 meter dengan dua kamar itu dibangun di atas tanah milik Abdullah sendiri, dengan material pembangunan rumah dari kayu gelondongan yang hanyut di bawah banjir saat melanda kawasan itu.

 

Bantuan huntara kayu itu dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Rumah Zakat termasuk pelibatan prajurit TNI AD dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina.

 

Sementara, proses pembangunan dilakukan secara mandiri bersama keluarga dan kerabat.

 

Ia mengaku memilih lokasi huntara di lahannya sendiri agar dekat dengan kebun, meski saat ini belum bisa kembali bekerja karena lingkungan rumah belum bersih dan belum tersedia fasilitas mandi.

 

Meski tanpa listrik dan hanya beratapkan seng, Abdullah menyebut huntara jauh lebih layak dibandingkan tenda pengungsian yang terasa panas di siang hari dan dingin pada malam hari.

 

Untuk penerangan malam hari, Abdullah memanfaatkan aki motornya yang rusak akibat banjir, disambungkan kabel sederhana sebagai sumber listrik sementara di huntara kayu tempat keluarganya berteduh selama pemulihan pascabencana.

 

Akses menuju permukiman kini mulai terbuka setelah pembersihan kayu gelondongan dilakukan, memudahkan mobilitas warga yang sebelumnya harus berjalan di atas tumpukan kayu selama berminggu-minggu.

 

Abdullah berharap setelah akses jalan terbuka, pemerintah dapat membantu pemulihan ekonomi warga, mengingat kebun dan sumber penghidupan masyarakat rusak parah akibat banjir.

 

Sementara itu, Keuchik (Kepala Desa) Geudumbak Saiful Bahri mengatakan banjir berdampak pada 1.659 jiwa atau 457 kepala keluarga (KK) dengan 337 rumah hanyut, terutama di Dusun Pante Resep yang berada dekat sungai mati.

 

Warga yang rumahnya hanyut saat ini masih bertahan di tenda pengungsian, sebagian tinggal di rumah kerabat, sementara lainnya mulai menempati huntara kayu yang dibangun di atas pondasi rumah masing-masing.

 

Dia menyebutkan mayoritas warga Geudumbak bekerja sebagai petani dan pekebun, namun sekitar 80 persen kebun sawit, cokelat, pinang, jeruk, serta sawah rusak parah sehingga tidak dapat digunakan kembali pascabanjir.

 

Lebih lanjut, dia mengatakan akses jalan utama desa yang sempat tertutup kayu gelondongan kini mulai terbuka setelah dibersihkan BNPB, TNI, dan Kementerian Kehutanan, sehingga mobilitas warga menuju kebun dan permukiman kembali lancar.

 

Meski huntara mulai ditempati, Saiful menyebut dua dusun masih belum mendapat aliran listrik dan warga kekurangan air bersih, sehingga dia berharap pemerintah segera memenuhi kebutuhan dasar sebelum Ramadhan agar pemulihan berjalan optimal.

 

Terpisah, Komandan Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina (Danyonzipur 5/ABW) Kodam V/Brawijaya yang juga Komandan Satgas SSY Yonzipur 5 di sektor Aceh Utara Letkol Czi Wahyu Wuhono mengatakan pihaknya ikut terlibat dalam pembangunan huntara berbahan kayu tersebut.

 

Wahyu menyebutkan sebanyak 30 unit huntara telah terbangun melalui kolaborasi lintas sektor, didanai Rumah Zakat, didesain UGM dan ITB, serta dikerjakan masyarakat, relawan, dan personel TNI.

 

Adapun material kayu berasal dari tumpukan kayu banjir setempat, dipilah dan diverifikasi Kementerian Kehutanan, memastikan kualitas layak pakai agar hunian tidak cepat lapuk dan aman ditempati oleh warga terdampak setempat berkelanjutan.

 

Setiap unit huntara rata-rata dihuni tiga hingga empat orang, sehingga 30 rumah menampung sekitar 90 sampai 120 penyintas yang sebelumnya tinggal di tenda pengungsian pascabanjir bandang.

 

Ia menambahkan pembangunan satu rumah memerlukan tiga hingga empat hari dengan dukungan 20 personel, sementara target 100 unit diprioritaskan, bersamaan rencana pemerintah membangun huntara baja ringan untuk pemulihan cepat warga terdampak banjir.(ds/antara)

acehAceh Utara
Comments (0)
Add Comment