DINAMIKA SULTRA.COM, KOLAKA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kolaka mencatat sebanyak 134 kepala keluarga (KK) terdampak banjir akibat luapan Sungai Polenga dan Tondowolio di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kolaka Sunarto saat dihubungi di Kolaka, Senin, mengatakan ratusan KK yang terdampak tersebut berada di dua desa, yakni Polenga Kecamatan Watubangga dan Tondowolio Kecamatan Tanggetada.
“Desa Polenga Kecamatan Watubangga 47 kk, Desa Tondowolio Kecamatan Tanggetada 87 kk,” kata Sunarto.
Ia menyebutkan banjir tersebut terjadi sekitar 01.30 Wita, Minggu (21/2) karena intensitas curah hujan tinggi mengakibatkan aliran Sungai Polenga meluap ke pemukiman warga dengan ketinggian air kurang lebih 1 hingga 2 meter yang juga bertepatan dengan pasang air laut.
“Akibat hujan deras, dua sungai ini meluap di rumah warga, dan pada saat itu juga bertepatan dengan pasang air laut,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa akibat banjir tersebut ada seratus lebih rumah warga yang terdampak di wilayah itu.
Sementara, untuk fasilitas umum, seperti Sekolah Dasar Negeri 1 Tondowolio dan Madrasah Nur Ain di Tanggetada, Kolaka, juga terdampak akibat banjir tersebut.
Selain rumah warga dan sarana prasarana, 30 hektare sawah masyarakat di dua wilayah tersebut juga terdampak banjir, yaitu Desa Polenga sekitar 18 hektare dan desa Tondowolio sekitar 12 hektare sawah.
Ia mengungkapkan saat ini kondisi ke dua wilayah tersebut sudah kembali aman dan kondusif. Selain itu, pihaknya bersama tim gabungan, yakni mulai instansi terkait, pemerintah desa, hingga masyarakat setempat juga telah melakukan pembersihan area pemukiman.
“Kami dengan Dinas Sosial, Babinsa, Bhabinkamtibmas, pemerintah desa, masyarakat setempat dan instansi terkait lainnya, bersama-sama melakukan gotong royong membersihkan sisa-sisa sedimen lumpur di rumah warga,” ungkapnya.
Sunarto menghimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap dampak perubahan cuaca.
Peningkatan curah hujan yang signifikan sampai puncak musim hujan pada April, dapat memicu bencana hidrometeorolgi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin kencang dan pohon tumbang.(ds/ono)