ANRI Buka Peluang Pembelajaran Sejarah untuk Siswa dalam Bentuk Gim

Listen to this article
Kepala ANRI Mego Pinandito (kiri) ditemui usai forum “Arsip Goes to School” di Gedung ANRI, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026). (ds/ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) membuka peluang pembelajaran sejarah untuk siswa dibuat dalam bentuk permainan (gim) atau berbagai format digital lainnya agar tetap relevan dan menyenangkan.

 

“Kita melihat bahwa anak-anak sekarang jarang yang bawa buku, tetapi lebih sering gawai atau handphone (HP), jadi kebayang kalau ada pembelajaran sejarah gitu harus bawa buku, kan sudah tidak sesuai ya, bagaimana caranya belajar tetap dengan buku, tetapi digital atau formatnya bukan buku, melainkan gim, cerita, film dan sebagainya. Gim itu juga salah satu model yang sangat menarik,” kata Kepala ANRI Mego Pinandito dalam forum “Arsip Goes to School” di Jakarta, Kamis.

 

Mego mencontohkan, gim tentang sejarah dapat ditampilkan dalam bentuk tantangan-tantangan menjawab peristiwa secara kronologis agar siswa semangat untuk menyelesaikannya.

 

“Misalnya cerita Diponegoro itu mulai dari tahun 1825-nya seperti apa, terus kalau itu dimasukkan dalam sebuah runutan kronologis sebuah gim, ujung-ujungnya sudah tahun 1830. Itu model-model yang tentu tidak hanya teman-teman di ANRI, tetapi juga teman-teman di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen),” ujar dia.

 

Mego mengemukakan, format pembelajaran dapat dibedakan sesuai usia, mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP hingga SMA.

 

“Kalau perlu kita undang juga dari misalnya ahli-ahli informasi dan teknologi (IT), teman-teman yang memang hebat menyusun sebuah gim, jadi model-model seperti itu, untuk yang PAUD, SD, hingga SMA. Jadi tidak hanya melulu dengan dua kementerian/lembaga ini, antara ANRI dan Kemendikdasmen, tetapi juga mungkin kita lebarkan lagi,” paparnya.

 

ANRI juga menunggu masukan dari guru-guru sejarah untuk membuat model pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pendidikan siswa. Apabila telah disusun, maka ANRI akan menyiapkan arsip dan dokumen asli tentang sejarah yang akan diangkat dalam model pembelajaran tersebut.

 

“Kita bisa melihat dari apa yang sudah ada. Saya membayangkan sesuatu yang mungkin misal dulu fotonya satu dalam satu buku gitu, ada cerita Revolusi Perancis, fotonya cuma satu atau dua, atau cerita Diponegoro, mungkin tidak pakai foto, padahal ada foto yang ilustrasi, lukisan, dan lain sebagainya. Jadi, kalau memang nantinya dari sisi ANRI, bisa memberikan beragam arsip yang terkait dengan sejarah, ya itu yang akan kita angkat bersama-sama,” paparnya.

 

ANRI juga akan memberikan pilihan kepada Kemendikdasmen untuk memilih cerita sejarah mana yang tepat dan menarik untuk dijadikan model pembelajaran interaktif secara digital.

 

“Kita akan terus berdiskusi, mana yang tepat dan mana yang kemudian ibu/bapak guru sejarah itu juga merasa bahwa ceritanya menarik, Itu juga penting. Jadi, tidak bisa hanya dari ANRI, tetapi ternyata tidak pas dengan kebutuhan dalam konteks pendidikan atau pengajaran sejarah. Saya pikir itu nanti kolaborasinya,” tuturnya.(ds/Antara)

Jakarta
Comments (0)
Add Comment