DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami deflasi sebesar 0,31 persen secara bulanan (month-to-month) pada Agustus 2026 yang dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan.
Kepala BPS Sultra Hadi Susanto di Kendari, Selasa, mengatakan penurunan harga tomat dan ikan layang menjadi komoditas paling dominan yang memberikan andil terhadap deflasi di wilayah tersebut.
“Di bulan lalu ada ikan yang harganya tinggi, ternyata sekarang sudah mulai turun. Itu sangat berpengaruh dan memang siklus seperti itu biasa terjadi dalam perekonomian,” kata Hadi Susanto.
Dia menyebutkan bahwa selain tomat dan ikan layang, komoditas lain yang turut menyumbang deflasi antara lain kangkung, bahan bakar rumah tangga, ikan teri, ikan cakalang, bawang merah, ikan selar, ikan gabus, sawi hijau, jagung manis, angkutan udara, hingga ikan tuna.
Hadi Susanto juga menjelaskan bahwa deflasi pada periode ini merupakan bentuk normalisasi harga komoditas yang sebelumnya sempat melambung, bukan disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di empat wilayah IHK, yakni Kota Kendari, Kota Baubau, Kabupaten Kolaka, dan Kabupaten Konawe, seluruhnya tercatat mengalami deflasi pada Agustus 2026.
“Empat kabupaten/kota yang rutin dicatat pergerakan harganya semuanya mengalami deflasi. Artinya, ini menjadi gejala umum di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Meski mengalami deflasi secara bulanan, Sultra masih mencatat inflasi secara tahunan (year-on-year) sebesar 3,35 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 114,02. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) tercatat sebesar 4,02 persen.
Kenaikan harga pada kelompok pengeluaran transportasi serta perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong utama inflasi tahunan di daerah tersebut.(ds/Ono)