Sultra Gelar Festival Nusaka Kultura Guna Lestarikan Budaya

Listen to this article
Atraksi senin bela diri Ewa Wuna yang ditampilkan oleh Sanggar Seni Keluarga Muna Barat pada Festival Budaya Nusaka Kultura, di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (23/10/2026) malam. (Ist)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Para pegiat seni di Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Festival Nusaka Kultura untuk melestarikan kembali tradisi dan budaya leluhur etnis di Taman Budaya, Kota Kendari yang berlangsung 22 – 24 Oktober 2026.

Direktur Eksekutif IDEA Project Ashari Amrullah di Kendari, Jumat malam, menyampaikan kegiatan festival budaya tersebut sebagai wadah pertemuan para pegiat seni ataupun musik untuk menampilkan berbagai pentas kebudayaan dan tradisi masyarakat di Sultra.

Ia mengatakan di Sultra terdiri etnis khas yang merupakan rumpun daerah tersebut, antara lain Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene, Bugis dan Bajau. Setiap etnis memiliki tradisi khas yang harus terus dilestarikan agar tidak tergerus zaman.

“Salah satu tujuan utama adalah kita memberi ruang kepada semua orang untuk kembali mengenal akar tradisi, kebudayaan leluhur yang ada di lingkungan di Sultra,” ujarnya.

Selain seni dan tradisi, Ashari mengatakan kegiatan ini juga menampilkan kriya kerajinan berupa anyaman dan berbagai olahan pangan lokal, seperti sinonggi.

Kemudian, festival budaya ini juga menjadi sarana antara para pegiat seni menyampaikan pengetahuan dan pengalaman mereka agar tradisi masyarakat tetap kekal pada generasi selanjutnya.

Di antaranya, yakni Nusaka Rasa yang menampilkan demonstrasi olahan pangan lokal berupa tradisi masonggi (menyantap sinonggi bersama), Nusaka Pertunjukan yang menyajikan sastra tutur, tari, dan musik tradisi, serta Nusaka Wicara berupa dialog kebudayaan.

Selain itu, terdapat Nusaka Workshop etnografi visual, pameran instalasi seni, serta pameran kriya berupa atraksi anyaman dari kelompok perempuan Desa Bahari.

“Kegiatan seperti ini sebenarnya sering dilakukan, tetapi secara parsial. Nah, ini adalah satu ruang kebudayaan yang menyentuh segalanya, mulai dari mata hingga rasa makanan,” ujarnya.

Ashari menjelaskan kegiatan ini merupakan hasil kerja kolaborasi yang melibatkan lebih dari 20 kelompok penampil, di antaranya terdiri atas tujuh sanggar tari, lima kelompok musik, empat kelompok sastra tutur, serta tujuh seniman perupa yang menggarap instalasi seni.

“Beberapa penampil yang turut memeriahkan panggung pementasan antara lain Sanggar Seni Saswara dengan Tarian Wawo Anta’u khas masyarakat Konawe sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen,” ungkapnya.

Selanjutnya, pertunjukan seni bela diri Ewa Wuna dari Sanggar Seni Keluarga Muna Barat, serta penampilan Studio 28 Kendari melalui Tarian Wa Ode Wau yang menceritakan jasa bangsawan wanita tangguh pada zaman Kesultanan Buton.

Melalui festival ini, Ashari berharap kegiatan tersebut dapat menjadi otokritik sekaligus dorongan bagi pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih serius terhadap pemajuan kebudayaan.

“Kami berharap pemerintah dapat lebih fokus memberikan perhatian, mulai dari menyiapkan ruang, media, hingga stimulan bagi kawan-kawan komunitas seni dan budaya di Sulawesi Tenggara,” tutur Ashari.(ds/Ono)

#kendari#sulawesitenggara
Comments (0)
Add Comment