‘Obat Kuat’ dari BI dan The Fed Bikin Rupiah Jadi Juara Asia!

Dengarkan Versi Suara

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Penguatan rupiah ditopang oleh faktor domestik dan eksternal.

Pada Selasa (3/3/2020), US$ 1 setara dengan Rp 14.190 kala pembukaan perdagangan pasar spot. Rupiah menguat 0,49% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Dari dalam negeri, setidaknya ada dua faktor yang menjadi ‘doping’ buat rupiah. Pertama, rupiah menyimpan potensi technical rebound karena depresiasi sudah sangat dalam.

 

Jadi, rupiah sekarang sudah ‘murah’. Ini akan membuat investor kembali tertarik oleh mengoleksinya.

Kedua, sepertinya euforia stimulus dari Bank Indonesia (BI) masih terasa. Kemarin, Gubernur Perry Warjiyo mengumumkan lima kebijakan terbaru untuk merespons kondisi perekonomian terkini, yang terdampak penyebaran virus corona.

Salah satunya adalah BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) valas dari 8% terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi 4% DPK, berlaku mulai 16 Maret. Penurunan ini akan meningkatkan likuiditas valas di perbankan sebesar US$ 3,2 miliar.

“Kami harapkan ini akan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Perbankan akan lebih mampu memasok pasar valas,” kata Perry.

 

Dolar AS Lesu Darah

Sementara dari sisi eksternal, rupiah menguat karena memang dolar AS sedang melemah. Pada pukul 07:36 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terkoreksi 0,79%. Dalam sepekan terakhir, indeks ini sudah amblas 1,62%.

Pelemahan dolar AS terjadi akibat ekspektasi pasar bahwa bank sentral The Federal Reserves/The Fed akan menurunkan suku bunga acuan. Tidak tanggung-tanggung, Federal Funds Rate diperkirakan dipangkas sampai 50 basis poin (bps).

 

 

CME FedWatch

 

Kepercayaan diri pelaku pasar terhadap prospek penurunan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam membuncah setelah komentar Powell akhir pekan lalu. Pengganti Janet Yellen itu mengatakan, perekonomian AS tidak akan imun terhadap dampak penyebaran virus corona.

“Virus corona menyebabkan risiko terhadap aktivitas ekonomi. The Federal Reserves memantau dengan saksama berbagai perkembangan yang ada dan dampaknya terhadap prospek ekonomi. Kami akan menggunakan instrumen-instrumen yang ada dan bertindak sewajarnya (appropriate) untuk mendukung perekonomian,” kata Powell, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Powell pernah menggunakan kata ‘appropriate’ pada Juni tahun lalu, kala perekonomian AS terpukul akibat perang dagang dengan China. Suku bunga acuan memang belum diturunkan pada bulan itu, tetapi kemudian dipangkas 25 bps pada Juli dan diturunkan dua kali lagi sampai akhir 2019.

Penurunan suku bunga acuan diharapkan menjadi stimulus yang menahan perekonomian AS dari perlambatan signifikan akibat rantai pasok yang rusak karena virus corona. Namun penurunan suku bunga acuan membuat berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi) menjadi kurang menarik.

Akibatnya, dolar AS mengalami tekanan jual. Mata uang Negeri Adidaya pun tidak berdaya di Asia pagi ini. Namun rupiah boleh menepuk dada karena menjadi mata uang terbaik di Asia.

Berikut perkembangan kurs dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 08:05 WIB:

TIM RISET CNBC INDONESIA

(cbnindonesia.com)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar