Kampanye Ganjar Pranowo di Merauke Tertib dan Disambut Hangat Masyarakat

Dengarkan Versi Suara
Calon presiden Republik Indonesia Ganjar Pranowo disambut tari gatzi yang diiringi dentuman suara tifa di Balai Kampung Waninggap Nango, Merauke, Papua Selatan, Selasa (28/11/2023). (ds/ANTARA/Abdu Faisal)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, MERAUKE – Pelaksanaan awal kampanye calon presiden republik Indonesia nomor urut 03 Ganjar Pranowo di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Selasa, berjalan tertib dan disambut hangat oleh masyarakat setempat.

“Teman-teman mahasiswa sangat antusias menyambut beliau,” ujar Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Asmat Marselus Yamkai.

Sejak pertama mendarat di Bandar Udara Internasional Mopah, Merauke, Selasa, ratusan warga sudah berkumpul di pintu kedatangan, sejak pagi hari. Mereka antusias menjemput dan menyambut Ganjar dengan gegap gempita.

Bahkan puluhan mahasiswa menyajikan tari Tibe khas suku Asmat, lengkap dengan pakaian adatnya. Mereka kemudian menyematkan noken dan mahkota bulu kasuari yang disebut kakayam kepada Ganjar.

Menurut Marselus, itu karena Ganjar bukan hanya sekadar berkunjung melainkan sangat peduli dengan Papua, seperti perhatiannya kepada mahasiswa asal Papua yang menempuh pendidikan di Jawa Tengah, saat Ganjar masih menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.

 

“Beliau sangat peduli terutama pendidikan dan mahasiswa asal Papua,” ujar Marselus.

Sementara itu, pengurus lembaga adat malind imo (LAMI) Paulinus Naki Balagaise (69) mengatakan kedatangan Ganjar ke Balai Kampung Waninggap Nango pada Selasa ini juga disambut meriah dengan tarian gatzi dan dentuman tifa.

“Masyarakat Marind yang ikut menari jadi gabungan, ada orang mayo, orang sosom, orang imo, ini menandakan kerukunan atau kesatuan bangsa. Karena acara-acara begini pasti bergabung, walaupun mereka biasa tunjukkan identitasnya sendiri di tempat lain,” kata Paulinus.

Paulinus menambahkan, tari gatzi adalah tari tradisi dan budaya di Merauke yang penarinya memiliki corak dan warna yang berbeda-beda berdasarkan pada golongan adat masing-masing.

“Orang sosom yang menari, mereka pakai hitam. Saya imo warnanya kuning, kuning itu kebanggaan karena bergabung ke mana saja bisa. Tapi ada imo tidak pakai corak sosom dan sebaliknya, meskipun adatnya satu,” kata dia.

 

Masyarakat Marind memperlakukan dengan hormat citra diri atau totem dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, sulit dibayangkan apa yang akan terjadi jika simbol-simbol itu punah. Proses identifikasi dalam sistem sosial mereka akan rusak.

“Kepercayaan yang mewarisi tata rias diri itu sejarahnya satu, tapi pemahamannya berbeda mengikuti para leluhur yang memperjuangkan untuk mendapatkan kesejatian hidupnya, secara daging, utuh. Artinya bukan ruh-ruh yang disejarahkan seperti cerita Roro Kidul,” kata Paulinus.

Oleh karena itu, kebersamaan seluruh masyarakat Marind saat menyambut Ganjar dapat diartikan sebagai kesenangan yang meluap-luap.

“Penari dia, pakai tifa itu supaya keluar iramanya bisa tertuntun dan ada yang memberi spirit atau semangat dari bunyi tifa-nya,” kata Paulinus pula.

Awalnya hanya lima penari laki-laki dan lima penari perempuan, tapi seiring berjalan waktu, semuanya akan ikut menari menyambut kedatangan Ganjar Pranowo.

 

Bukti cinta
Ganjar pun semakin bertambah cintanya kepada tanah di ujung timur Papua melihat keluhuran tradisi dan budaya Indonesia yang dipertontonkan masyarakat Merauke.

Oleh karena itu, di hari pertama masa kampanyenya, Ganjar Pranowo sengaja memilih titik di ujung timur Indonesia di mana matahari terbit yaitu Merauke.

“Bukan karena asal tunjuk, ini kami pilih karena kecintaan kami kepada tanah air,” kata Ganjar.

Ganjar juga sempat menjajal makanan khas Marind bernama sagu sep bersama masyarakat Kampung Waninggap Nango.

Hidangan tradisional yang terbuat dari campuran tepung sagu, kelapa, daging, ikan, dan rempah-rempah untuk menambah cita rasa itu disantap pula oleh Wakil Ketua Umum Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa dan Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Gatot Eddy Pramono.

 

Tak janji
Dalam kampanye pertemuan terbatas itu, Ganjar juga tidak ingin melanggar aturan Bawaslu.

Hal itu ditegaskan Ganjar ketika dirinya berjanji membangun Puskesmas Pembantu di Dusun Korkari, wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.

Janji itu disampaikan Ganjar usai menyimak kesulitan masyarakat di wilayah RT03 Kampung Kondo Kabupaten Merauke untuk melakukan proses persalinan yang disampaikan oleh tokoh pemuda setempat, Pendeta Leonard Batfeny.

“Yang dibutuhkan adalah rumah kesehatan. Kami tidak akan berjanji dan tidak akan menjanjikan, tapi percayalah kami akan mengkomunikasikan agar nantinya ada tangan-tangan baik dengan nilai gotong royong yang mudah-mudahan bisa membantu membukakan puskesmas pembantu di Dusun Korkari,” Kata Ganjar.(ds/antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar