BKMT Bombana Tunjukkan Daya Saing di Harmoni Sultra 2026

Listen to this article
Prestasi dan jejaring jadi bukti majelis taklim tak hanya ruang ibadah, tapi juga wadah pemberdayaan sosial. (Foto: Mdn)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Upaya memperkuat peran organisasi keagamaan di tengah masyarakat kembali mendapat panggung dalam ajang “Harmoni Sultra” yang digelar di Kendari, Minggu (26/04/2026).

Di antara puluhan kontingen yang hadir, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Bombana mencuri perhatian melalui capaian prestasi sekaligus partisipasi aktif dalam membangun jejaring antar daerah.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan Milad ke-45 BKMT ini bukan sekadar perayaan seremonial. Lebih dari itu, agenda ini menjadi ruang strategis bagi organisasi majelis taklim untuk menunjukkan kontribusi nyata, baik dalam bidang keagamaan maupun sosial budaya.

Kehadiran kontingen dari 17 kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara memperlihatkan bagaimana organisasi berbasis komunitas ini terus berkembang mengikuti dinamika zaman.

Kirab BKMT yang dilepas oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, menjadi pembuka yang menyatukan semangat kolektif antar peserta. Ragam penampilan yang ditampilkan masing-masing daerah memperlihatkan identitas lokal yang dikemas dalam nuansa religius dan kultural.

Di titik ini, BKMT tidak hanya berfungsi sebagai wadah pengajian, tetapi juga sebagai medium pelestarian budaya.

BKMT Bombana sendiri tampil cukup kompetitif. Dengan persiapan yang matang, mereka berhasil meraih Juara 2 pada lomba Fashion Show Dewasa dan Juara 3 pada lomba Qasidah Rebana.

Hasil ini menunjukkan bahwa organisasi majelis taklim mampu beradaptasi dengan ruang-ruang kreatif tanpa kehilangan nilai dasar keagamaan.

Namun, capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Di balik prestasi, terdapat kerja kolektif yang mencerminkan kekompakan internal organisasi.

Partisipasi aktif anggota dalam berbagai rangkaian kegiatan menjadi indikator bahwa BKMT di tingkat daerah memiliki fondasi organisasi yang cukup solid.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima redaksi, keikutsertaan BKMT Bombana dalam ajang ini juga dimanfaatkan untuk memperluas jejaring antar daerah.

Interaksi yang terbangun tidak hanya sebatas formalitas kegiatan, melainkan menjadi ruang bertukar pengalaman dan strategi dalam mengelola organisasi majelis taklim di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.

Dari perspektif publik, kegiatan seperti ini memiliki dampak yang cukup signifikan. Di satu sisi, ia menjadi ajang apresiasi bagi kelompok perempuan dalam majelis taklim yang selama ini berperan aktif dalam pembinaan moral masyarakat.

Di sisi lain, kegiatan ini juga membuka peluang kolaborasi lintas daerah yang dapat memperkuat program-program pemberdayaan umat.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran peran majelis taklim yang tidak lagi terbatas pada aktivitas ritual keagamaan. Kini, majelis taklim mulai mengambil posisi sebagai agen sosial yang mampu berkontribusi dalam pembangunan berbasis komunitas.

Hal ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang menginginkan organisasi keagamaan lebih adaptif terhadap isu-isu sosial.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Konsistensi dalam menjaga kualitas program dan keberlanjutan kegiatan menjadi pekerjaan rumah bagi setiap pengurus daerah. Tanpa pengelolaan yang baik, momentum seperti “Harmoni Sultra” berpotensi hanya menjadi agenda tahunan tanpa dampak jangka panjang.

Di tengah dinamika tersebut, BKMT Bombana setidaknya telah menunjukkan langkah awal yang cukup positif. Tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem organisasi yang aktif, produktif, dan kompetitif.

Sebagaimana disampaikan dalam siaran resmi kegiatan, semangat “Harmoni Sultra Produktif untuk Sultra Sejahtera” menjadi benang merah yang mengikat seluruh rangkaian acara. Namun, implementasi dari semangat tersebut pada akhirnya bergantung pada bagaimana setiap daerah mampu menerjemahkannya ke dalam program nyata di masyarakat.

Dengan capaian yang diraih, BKMT Bombana tidak hanya membawa pulang penghargaan, tetapi juga pengalaman dan jejaring yang berpotensi memperkuat peran mereka ke depan.

Di titik ini, keberhasilan tidak lagi diukur dari piala semata, melainkan dari sejauh mana organisasi mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat luas.(ds/Mdn/Ono)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar