Pemkot Kendari Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Banjir

Listen to this article
Kondisi banjir yang merendam rumah warga di Kendari, Sulawesi Tenggar. (Ist)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menaikkan status penanganan bencana menjadi tanggap darurat setelah banjir besar melanda tujuh kecamatan di daerah tersebut yang berdampak pada ribuan warga.

 

Wali Kota Kendari Siska Karina Imran saat ditemui di Kendari, Selasa, mengatakan bahwa penetapan ini merupakan respons atas hujan intensitas tinggi yang menyebabkan luapan air di tujuh kecamatan, merusak lahan pertanian, serta memaksa warga untuk mengungsi.

 

“Melihat kondisi Kota Kendari sekarang, status tanggap darurat bencana perlu ditetapkan. Penanganannya juga harus dibarengi aksi nyata dan koordinasi yang makin kuat,” kata Siska.

 

Dia menyebutkan bahwa berdasarkan data sementara banjir telah berdampak pada 797 rumah dan 3.517 jiwa yang tersebar di tujuh kecamatan, meliputi Baruga, Poasia, Kambu, Kendari Barat, Wuawua, Kadia, dan Abeli.

 

“Selain permukiman, sekitar 100 hektare sawah siap panen dilaporkan ikut terendam dan terancam mengalami gagal panen,” ujarnya.

 

Siska juga menjelaskan jika persoalan banjir di Kota Kendari tidak dapat diselesaikan secara parsial mengingat wilayah tersebut merupakan daerah hilir yang menjadi muara dari aliran air beberapa kabupaten di sekitarnya.

 

 

 

“Kendari ini menjadi muara dari beberapa daerah. Ketika hujan turun sebentar saja sudah terjadi banjir, apalagi kalau hujan berlangsung berhari-hari seperti saat ini,” jelas Siska.

 

Ia menekankan pentingnya kehadiran pemerintah secara langsung di tengah masyarakat dan meminta koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sultra maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) ditingkatkan untuk penanganan yang lebih permanen.

 

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Kendari Cornelius Padang menjelaskan bahwa sebelumnya pihaknya telah menetapkan status siaga bencana sejak 6 Mei 2026. Namun, meluasnya titik terdampak akibat cuaca ekstrem mendorong perlunya peningkatan status menjadi tanggap darurat agar penanganan lebih optimal.

 

“Selama empat hari terakhir intensitas hujan sangat tinggi. Ada sekitar 15 titik banjir dan beberapa di antaranya terdampak cukup berat,” sebut Cornelius.

 

Di sisi lain, Wakil Wali Kota Kendari Sudirman menambahkan bahwa upaya normalisasi sungai yang telah dilakukan di beberapa titik, seperti Kali Korumba dan Lorong Lasolo, mulai menunjukkan hasil dengan berkurangnya debit banjir di kawasan tersebut.

 

“Kami kini fokus pada langkah darurat, termasuk evakuasi warga, penyaluran logistik, serta pembersihan material sisa banjir di rumah-rumah penduduk,” tambah Sudirman.(ds/Ono)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar