Mendikdasmen-Singapura Perkuat Kolaborasi Pendidikan Masa Depan

Listen to this article
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee di Singapura, Rabu (22/7/2026) memperkuat kolaborasi pendidikan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, pembaruan MoU bidang pendidikan, hingga penguatan akses pendidikan bagi murid. (ds/ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti dan Menteri Pendidikan Singapura Desmond Lee memperkuat kolaborasi pendidikan pada pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, pembaruan MoU bidang pendidikan hingga penguatan akses pendidikan bagi murid.

 

Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat, Minggu, menyampaikan Indonesia menghadapi tantangan besar sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 50 juta peserta didik, yang banyak diantaranya tinggal di wilayah pelosok.

 

Sejalan dengan kebijakan Presiden Republik Indonesia, pihaknya terus mendorong penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang lebih fleksibel melalui pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses pendidikan dan mengurangi kesenjangan layanan pendidikan antardaerah.

 

”Kita bisa menggunakan teknologi untuk memiliki akses ke internet, kita bisa menggunakan teknologi, termasuk AI, sebagai bagian dari strategi untuk menghilangkan kesenjangan antara pelajar yang tinggal di kota dan pelajar yang tinggal di pelosok negeri,” ujar Mu’ti.

 

Mendikdasmen menegaskan pemanfaatan AI harus tetap diimbangi dengan penguatan kemampuan berpikir reflektif dan berpikir kritis peserta didik, karena AI tetap memiliki keterbatasan, sehingga tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia dalam memahami bahasa, budaya, maupun konteks lokal.

 

”Kadang-kadang, AI bisa membantu mereka, untuk memiliki narasi atau deskripsi, tetapi jika berpikir refleksif, dan berpikir kritis, itu tidak banyak,” tegas Mu’ti.

 

Mendikdasmen juga membuka peluang kolaborasi dengan Temasek maupun perusahaan-perusahaan Singapura yang beroperasi di Indonesia untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, khususnya bagi peserta didik di wilayah yang berdekatan dengan Singapura, seperti Sumatera, termasuk dalam mengatasi tantangan learning loss.

 

Mendikdasmen berharap kedua negara dapat menemukan solusi terbaik agar layanan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Singapura dapat terus berlangsung.

 

Keduanya juga membahas peningkatan kompetensi tenaga pendidik serta pekerja migran Indonesia agar semakin profesional selama bekerja di Singapura.

 

Pada kesempatan yang sama, Desmond Lee menginisiasi pembaruan MoU kerja sama pendidikan yang terakhir disepakati pada 2017.

 

Menurutnya, perkembangan teknologi, AI dan berbagai tantangan global perlu direspons melalui kerja sama yang lebih adaptif dan berorientasi ke masa depan, terlebih menjelang peringatan 60 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Singapura pada 2027.

 

”Sejak 2017, banyak yang berubah. Teknologi, AI, fokus kita terhadap masalah di seluruh dunia, sehingga secara domestik, kita mengambil peluang, memperbaiki MoU-nya, menyesuaikan, dan membuatnya berorientasi ke masa depan, untuk kolaborasi Indonesia-Singapura,” kata Desmond Lee.

 

Selain membahas pemanfaatan teknologi dan penguatan kerja sama pendidikan, kedua menteri juga mendiskusikan keberlanjutan Sekolah Indonesia Singapura (SIS) yang masa penggunaan lokasinya akan berakhir pada April 2027.(ds/Antara)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar