DINAMIKA SULTRA.COM, JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pendidikan antarbudaya membangun kekuatan generasi masa depan agar menjadi warga global yang tidak kehilangan jati diri sebagai bagian dari Indonesia.
“Menjadi warga global tanpa kehilangan jati diri sebagai Indonesia adalah kekuatan generasi masa depan yang dibangun melalui pendidikan antarbudaya,” kata Mendikdasmen Mu’ti di Jakarta pada Jumat.
Penyelenggaraan National Symposium 70th Antarbudaya AFS, kata dia, menjadi ruang dialog mengenai pentingnya pendidikan karakter dan pengalaman antarbudaya dalam membentuk generasi muda Indonesia yang unggul secara akademik, berempati, mampu berkolaborasi dan memiliki perspektif global.
Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar Rita Pranawati menekankan pendidikan sejatinya tidak cukup hanya menghasilkan generasi cerdas secara akademik, namun juga pribadi yang berintegritas, berempati, dan memiliki kepedulian sosial.
“Pendidikan antarbudaya dinilai menjadi salah satu ruang belajar yang relevan untuk membangun karakter tersebut,” kata Rita.
Adapun Yayasan Bina Antarbudaya sebagai organisasi nirlaba sejak tahun 1985 telah mengelola program pertukaran pelajar AFS di Indonesia.
Karena itu, ia pun mengajak yayasan tersebut beserta program AFS Indonesia untuk memperluas jangkauan ke berbagai wilayah, khususnya yang masuk dalam kategori 3T agar lebih banyak anak-anak muda yang berkesempatan mendapatkan pengalaman dan pendidikan antarbudaya.
“Kami mengajak AFS Indonesia untuk memperluas jangkauan program ke lebih banyak daerah di Indonesia Timur, khususnya wilayah 3T. Di sana, banyak generasi muda yang memiliki potensi luar biasa, tetapi belum memiliki akses yang sama terhadap pengalaman antarbudaya,” katanya.(ds/Antara)