Bombana Perkuat Produksi Pertanian, Alsintan Disalurkan untuk Percepatan Tanam

Listen to this article
Dukungan mekanisasi pertanian diharapkan mempercepat pengolahan lahan, meningkatkan produksi gabah, dan membuka peluang pengolahan hasil panen di daerah. (Foto: Ono)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, BOMBANA — Peningkatan produksi pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan yang ditanami, tetapi juga pada kemampuan petani mengolah lahan secara efektif dan tepat waktu. Di Kabupaten Bombana, dukungan terhadap mekanisasi pertanian menjadi salah satu langkah yang ditempuh pemerintah daerah untuk mendorong percepatan tanam dan mengoptimalkan hasil panen pada 2026.

Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si., menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) di halaman Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bombana, Kamis (15/10/2026). Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung program Luas Tambah Tanam (LTT) sekaligus memperkuat upaya peningkatan produksi gabah di wilayah itu.

Peralatan yang disalurkan mencakup mesin penanam padi (rice transplanter), traktor roda crawler, traktor roda empat, traktor roda dua, serta pompa air Kohpad KD 150 dan GTO-4. Jenis peralatan tersebut memiliki fungsi berbeda, mulai dari membantu persiapan lahan dan penanaman hingga mendukung penyediaan air bagi kegiatan pertanian.

Penyerahan bantuan itu turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bombana, Ketua TP PKK Kabupaten Bombana, sejumlah kepala perangkat daerah, serta para penerima bantuan.

Pemanfaatan alsintan diharapkan dapat membantu petani mengurangi kendala teknis dalam proses budidaya. Pengolahan lahan yang lebih efisien dan penanaman yang tepat waktu menjadi bagian penting dalam mendukung perluasan areal tanam, terutama ketika petani harus menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air.

Dalam sambutannya, Burhanuddin menekankan pentingnya mengoptimalkan penggunaan bantuan agar masyarakat semakin terdorong untuk menanam dan meningkatkan produksi gabah.

“Saya berharap alat-alat yang kita serahkan ini menjadi pemicu agar masyarakat kembali semangat untuk menanam. Kita memaksimalkan produksi gabah kita,” ujar Burhanuddin.

Pernyataan tersebut menempatkan bantuan peralatan sebagai salah satu instrumen untuk mencapai target produksi. Namun, efektivitasnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah mesin yang disalurkan. Ketersediaan operator, pemeliharaan peralatan, pengaturan jadwal penggunaan, serta kesesuaian alat dengan kebutuhan lahan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Bagi petani, bantuan akan lebih terasa manfaatnya apabila peralatan dapat digunakan secara berkelanjutan dan menjangkau lahan yang membutuhkan. Karena itu, pengelolaan alsintan setelah penyerahan menjadi aspek penting agar fasilitas tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar menunjang aktivitas produksi.

Selain mendorong peningkatan hasil pertanian, pemerintah daerah mengingatkan pentingnya menjaga keamanan lingkungan dalam proses pembukaan maupun pengolahan lahan. Burhanuddin meminta masyarakat tidak menggunakan cara membakar untuk membersihkan lahan karena berisiko memicu kebakaran yang meluas, khususnya saat kondisi kering.

“Saya juga mengingatkan agar kita tidak membakar lahan dalam rangka mengolah lahan. Pengolahan lahan harus dilakukan dengan cara yang aman agar tidak menimbulkan kebakaran,” tegasnya.

Imbauan tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan produksi perlu berjalan seiring dengan praktik pertanian yang aman. Kebakaran lahan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kegiatan warga dan merusak areal pertanian. Penggunaan peralatan mekanis yang sesuai kebutuhan dapat menjadi salah satu pilihan dalam mendukung pengolahan lahan tanpa pembakaran.

Meski demikian, upaya pencegahan tetap membutuhkan kesadaran petani, pendampingan dari petugas terkait, dan penerapan metode pengolahan lahan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Agenda penguatan pertanian di Bombana juga menyentuh persoalan setelah panen. Pemerintah daerah mengharapkan adanya fasilitas penggilingan padi berskala besar atau Rice Mill Plant agar gabah yang dihasilkan petani dapat diolah menjadi beras di daerah sendiri.

Keberadaan fasilitas pengolahan semacam itu berpotensi memperkuat rantai nilai komoditas padi. Jika didukung pengelolaan yang baik, pengolahan di tingkat daerah dapat membuka peluang peningkatan nilai jual produk, memperkuat kegiatan usaha terkait pertanian, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Namun, rencana tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur, kepastian pasokan gabah, pengelolaan usaha, serta akses pasar yang memadai. Keterhubungan antara produksi di tingkat petani dan fasilitas pascapanen menjadi penting agar peningkatan hasil tidak hanya tercermin pada jumlah gabah, tetapi juga pada nilai ekonomi yang diterima masyarakat.

Penyaluran alsintan pada akhirnya perlu diikuti dengan pemanfaatan yang terukur dan pendampingan berkelanjutan. Keberhasilan program LTT dan peningkatan produksi pertanian di Bombana dapat dinilai melalui perkembangan luas tanam, produktivitas, hasil panen, serta manfaat nyata yang diterima petani.

Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan sekadar memastikan peralatan telah diserahkan, melainkan memastikan bantuan tersebut bekerja sesuai kebutuhan di lapangan dan menjadi bagian dari upaya membangun pertanian Bombana yang produktif, aman, dan memiliki nilai tambah.(ds/Mdn/Ono)

Alsintan Disalurkan untuk Percepatan TanamBombanaBombana Perkuat Produksi PertanianSulawesitenggara
Comments (0)
Add Comment