Antara Gawai dan Trantrum Anak, Salah Siapa?

Dengarkan Versi Suara

 

Oleh : Nisa Revolter, Praktisi Pendidikan

Mendidik anak di zaman modern memang punya tantangan tersendiri bagi para orangtua. Zaman modern sarat dengan perkembangan teknologi. Setiap masa ada pembaharuan, update istilahnya. Begitu juga handphone atau gawai, kini dilengkapi fitur-fitur canggih dan menarik. Terlepas dari sisi negatifnya, gawai punya banyak kelebihan. Selain aplikasi yang menjadi hiburan, gawai menjadi media edukasi juga memudahkan mobilisasi, akses kemana-mana tidak terhalang karena jarak.

 

Namun jika salah menggunakan gawai akibatnya fatal. Apalgi digunakan untuk mendidik anak. Meski tidak dapat dipungkiri, era digital ini menjadikan anak lebih dinamis. Tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh teknologi. Tidak jarang anak memiliki wawasan lebih luas dibanding orangtua atau pendidiknya karena gawai. Namun sekali lagi jika lepas kendali, bisa bahaya.

 

Faktanya, sekarang ini banyak kecanduan gadget, bermain game atau sosial media, atau aplikasi hiburan lainnya. Akibatnya anak menjadi pribadi yang malas, pemarah dan acuh tak acuh. Jangankan disuruh membantu orangtua, mengerjakan PR pun atau sekedar mandi pun enggan.

 

Tidak hanya itu, dampak gadget ini sampai-sampai menimbulkan kematian. Seperti di Bekasi, Jawa Barat, viral video seorang anak tewas tersetrum listrik ketika hendak mengambil handphonenya. Diduga anak tersebut sedang bermain tiktok (suarajabar.id, 15/06/20).

 

Anak-anak korban gadget ini sudahlah susah diatur, gunakan gadget pun tak terkendali. Kalau sudah begini, orangtua jadi kelimpungan menghadapinya.

 

Jadi salah siapa ?

 

Semua orangtua pasti mau memberikan yang terbaik bagi anaknya, juga perihal gadget ini. Orangtua dengan kecukupan ekonomi yang ada rela membelikan anaknya gadget agar bisa cerdas. Meski begitu, sebenarnya dampak dari pengaruh gadget juga harus menjadi pertimbangan. Tidak hanya sekedar membelikan, laku lepas perhatian.

 

Tantangan inilah yang perlu dijawab para orangtua agar kejadian yang lalu-lalu yang terjadi kembali, agar anak bisa terkendali dari gadget. Sesungguhnya tdk ada kata terlambat, orangtua boleh berbenah diri, dengan melakukan hal-hal berikut.

 

Pertama, ajarkan anak tentang keimanan. Beriman kepada penciptanya, Allah SWT. Yakinkan anak bahwa Allah selalu memantau setiap gerak gerik hamba-Nya, termasuk anak itu sendiri. Setiap aktivitasnya harus berlandaskan halal haram. Menggunakan gawai boleh-boleh saja, sebab hukum menggunakan gawai itu mubah, artinya boleh. Tapi jika digunakan justru melalaikan kewajiban yang lain, maka hukumnya menjadi haram. Sebagaimana kaidah syara : sarana yang menghantarkan pada keharaman, hukumnya diharamkan (Al-Qarafi, Al-Furuq, Juz II, hal.33).

 

Karena itu, jika bermain gawai dapat meninggalkan kewajiban lain misal membantu orangtua, sholat wajib, dll maka hukum menggunakan gawai menjadi haram. Bila iman anak sudah kokoh, dengan sendirinya anak akan membatasi untuk menggunakan gawai.

 

Kedua, bangun komunikasi dengan anak, termasuk kontrol. Hakikatnya pendidikan anak memang berawal dari rumah. Sebab rumah adalah tempat awal tumbuh kembangnya anak. Dari sana anak belajar memahami kehidupan. Ajak anak bercerita, meluapkan segala keluh kesah. Agar anak tak bosan di rumah, hingga mencari kesenangan lain. Maka komunikasi yang intens kepada anak akan dapat mengalihkan perhatiannya dari gadget.

 

Ketiga, alihkan aktivitas anak. Berikan kepada anak mainan interaktif, yang mampu mengasah kemampuan berfikirnya atau dengan mendidik anak agar suka membaca. Membaca apapun itu. Biasakan terus agar menjadi habits. Kalau sudah terbentuk, apapun yang digenggam termasuk gawai, pasti digunakan untuk membaca. Sehingga kegiatan anak pada gawai bisa teralihkan dengan membaca.

 

Keempat, bentuk lingkungan anak yang kondusif. Buat anak berbaur kepada lingkungan yang mengajak untuk selalu berbuat baik, ajak anak aktif pada komunitas sosial atau komunitas pengajian. Lingkungan akan mempengaruhi perilaku anak. Lingkungan orientasi gadget, dalam artian di dalamnya berisi orang-orang yang doyan gadget, maka anak pun akan lebih sering bermain gadget.

 

Terakhir, doa orangtua. Doa adalah alat yang paling ampuh. Orangtua tak lupa mendoakan anak agar senantiasa menjaga diri, tidak melalaikan kewajiban, selalu taat kepada Allah dimanapun dan kapanpun.

 

Sebagaimana Nabi Ibrahim a.s mendoakan anak dan istrinya yang diabadikan Allah di dalam kitab-Nya Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” (QS. Ibrahim:35).

 

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim:37)

 

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim:40)

 

Begitulah kiranya agar dapat membentengi anak dari pengaruh gawai. Kendati demikian, upaya yang kita lakukan hanya berlaku sementara tanpa ditopang dengan sistem yang tegas, sistem yang memang menginginkan generasinya cerdas dunia dan akhirat.

 

Faktanya sistem kita sekarang, sistem kapitalisme. Landasannya sekulerisme, memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya kesenangan dunia belaka saja yang dicari. Benar saja, buktinya negara memfasilitasi anak untuk senang bermain gawai dengan membuat lomba lalu dihadiahkan, lewat piala presiden e-sport (detik.com, 29/01/19) atau kebijakan imbauan lewat aplikasi tiktok (liputan6.com, 18/05/20)  hingga anak gemar bermain tiktok.

 

Olehnya itu, jika kita ingin membangun generasi terbaik, sistemnya juga perlu mendukung. Dan pendukung generasi terbaik tak akan ditemui jika masih bertahan di dalam sistem kapitalisme ini. Dari pendidikannya menghasilkan anak-anak materialis, sosialnya menjadikan anak-anak bebas interaksi, dlsb.

 

Walhasil segala aturan yang bersumber dari sistem ini sungguh memilukan. Alih-alih melahirkan anak-anak yang cerdas dunia akhirat, justru menghancurkan generasi. Sudah saatnya kita beralih kepada sistem benar-benar akan menelurkan generasi hebat, tangguh, juga akhlak mulia. Ialah sistem islam. Sistem yang berasal dari pencipta segala sesuatu. Karena-Nya kita bisa hadir di dunia dan kepada-Nya kita akan kembali. Maka sudah pasti aturan untuk kita sebagai makhluk-Nya tidak akan salah. Taati Allah, dapati berkah. Hidup mulia dengan syariat islam.

 

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf:96)

 

Wallahu a’lam bishshowab.

Baca Juga !
Tinggalkan komentar