BKKBN Kepri Beri Intervensi Pada 4.857 Keluarga Risiko Stunting

DINAMIKA SULTRA.COM, BATAM – Perwakilan BKKBN Provinsi Kepulauan Riau telah memberikan bantuan maupun intervensi kepada 4.857 keluarga risiko stunting (KRS) melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) semester I 2026.
“Kita mengidentifikasi KRS ini kan melalui pendataan keluarga lalu diberi target 5.612 KRS. Hingga Semester I kami telah memberikan bantuan kepada 4.857 KRS, berarti 86,5 persen tercapai,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Kepri dr. Victor Palimbong saat dikonfirmasi di Batam, Sabtu.
Ia mengatakan capaian tersebut tidak hanya mencakup bantuan pemenuhan gizi, tetapi juga intervensi lain yang mendukung pencegahan stunting.
“Intervensi itu bukan saja intervensi gizi dan sanitasi, tetapi juga komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), termasuk pendampingan kepada keluarga risiko stunting,” katanya.
Menurut dr. Victor, di Kota Batam maupun kabupaten/kota lainnya, bentuk intervensi yang paling banyak dilakukan saat ini masih berupa komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE).
“Banyak bentuk intervensi, jadi sesuai kebutuhan KRS tersebut. Mulai dari bantuan nutrisi, rumah layak huni (RLH), sanitasi berupa jamban sehat dan akses air bersih, dan juga KIE, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga,” kata dia.
Victor mengatakan berdasarkan hasil pendampingan di lapangan, kebutuhan terbesar keluarga risiko stunting di Kepri saat ini adalah rumah layak huni dan sanitasi.
Menurutnya, tantangan terbesar pelaksanaan Program GENTING adalah keterbatasan jumlah orang tua asuh dibandingkan kebutuhan keluarga risiko stunting. Selain itu, program ini tidak menggunakan anggaran pemerintah.
“Program GENTING ini non-APBN dan non-APBD, sehingga murni mengandalkan kolaborasi berbagai pihak seperti dunia usaha melalui CSR (corporate social responsibility), Habitat for Humanity, Rumah Zakat, dan mitra lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan kondisi geografis Kepulauan Riau yang didominasi wilayah kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri dalam penyaluran bantuan.
“Bayangkan kalau harus mengirim bantuan ke Lingga atau Anambas, tentu membutuhkan biaya dan sumber daya yang lebih besar,” katanya.
Di sisi lain, dr. Victor mengungkapkan prevalensi stunting di Kepulauan Riau terus menunjukkan tren penurunan.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting Kepri berada di angka 15 persen, lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 19,8 persen.
Sementara pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting Kepri tercatat 16,8 persen, juga berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 20,1 persen.(ds/Antara)