Sultra Ekspor 900 Ton Tepung Tapioka ke China

Listen to this article
Proses pelepasan ekspor tepung tapioka dan minyak kelapa asal Sulawesi Tenggara. (Ist)

 

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mendorong percepatan hilirisasi sektor pertanian dengan melepas ekspor perdana komoditas unggulan berupa 900 ton tepung tapioka ke China dan 127 ton minyak kelapa (crude coconut oil) ke Malaysia.

 

Gubernur Sultra Andi Sumangerukka saat ditemui di Konawe Selatan, Kamis, mengatakan bahwa ekspor perdana tersebut menjadi momentum awal untuk mengembangkan sektor pertanian dengan skala ekonomi yang lebih besar, mengingat Sultra memiliki potensi besar di luar sektor pertambangan.

 

“Sektor pertanian kita sangat menjanjikan. Pemprov Sultra akan memberikan stimulus terhadap kegiatan yang mendorong komoditas pertanian, termasuk memastikan ketersediaan bahan baku ubi kayu untuk industri pengolahan tapioka,” kata Andi Sumangerukka saat pelepasan ekspor senilai miliaran rupiah oleh PT Agri Casava Makmur tersebut dipusatkan di Desa Arongo, Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan.

 

Dia menyebutkan bahwa pemerintah daerah akan memfasilitasi pertemuan para pemangku kepentingan untuk memetakan kebutuhan bahan baku dan memanfaatkan lahan masyarakat maupun aset milik pemerintah provinsi secara terencana.

 

Di tempat yang sama, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan ekspor perdana tersebut sejalan dengan agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong hilirisasi di sektor pertanian, perikanan, dan energi.

 

“Pemerintah pusat melalui Presiden Prabowo mengutamakan hadirnya pabrik-pabrik pengolahan di daerah, selain pembukaan lahan dan intensifikasi. Karantina siap membantu pelaku usaha dalam menyamakan standar mutu produk,” ujar Karding.

 

Karding menekankan agar pelaku usaha dan UMKM di Sultra konsisten menjaga standar kesehatan, mutu, dan kualitas produk guna mempermudah penetrasi pasar internasional.

 

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi IV asal Sultra Jaelani mengapresiasi kontribusi sektor pertanian yang menyumbang sekitar 23 persen terhadap PDRB Sultra, melampaui sektor pertambangan (21 persen) dan perdagangan (20 persen).

 

“Kami juga berkomitmen untuk memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku usaha dalam memfasilitasi sarana serta prasarana yang dibutuhkan para petani dan industri pertanian di Sulawesi Tenggara,” kata Jaelani.

 

Senada dengan itu, Kepala Bea Cukai Kendari Taufik Sapto Harsono mengatakan bahwa pihaknya juga berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan yang optimal kepada para pelaku usaha, khususnya dalam mendukung kelancaran kegiatan ekspor.

 

“Sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait akan terus kami perkuat agar semakin banyak komoditas unggulan Sulawesi Tenggara yang dapat menembus pasar internasional,” ujar Taufik.

 

Melalui pelayanan yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kemudahan berusaha, Bea Cukai Kendari akan terus hadir sebagai mitra strategis bagi pelaku usaha. Di sisi lain, fungsi pengawasan tetap dilaksanakan secara optimal guna memastikan kegiatan ekspor berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Ia menambahkan bahwa pelepasan ekspor tepung tapioka oleh PT Agri Cassava Makmur dan VCO oleh PT Sofi Agro Industries menjadi langkah positif dalam memperkenalkan Komoditas Sulawesi Tenggara yang berpotensi ke pasar global.

 

“Momentum ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi pelaku usaha lainnya untuk mengembangkan produk unggulan daerah yang memiliki nilai tambah dan berorientasi ekspor,” katanya menambahkan.(ds/Ono)

Baca Juga !
Tinggalkan komentar