DJPb Sultra: Program MBG Jangkau 704 Penerima Manfaat

DINAMIKA SULTRA.COM, KENDARI – Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut telah menjangkau 704.066 penerima manfaat hingga 31 Juli 2026.
Kepala Kanwil DJPb Sultra Iman Widhiyanto di Kendari, Rabu, mengatakan bahwa program nasional tersebut telah dilaksanakan melalui 282 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 17 kabupaten dan kota se-Sultra.
“Besarnya kebutuhan tersebut menjadikan program MBG tidak hanya sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi sumber permintaan yang sangat signifikan bagi komoditas pangan serta jasa logistik lokal,” kata Iman Widhiyanto.
Ia menjelaskan, pelaksanaan MBG di Sultra saat ini didukung oleh 1.969 pemasok (supplier) dengan estimasi nilai kegiatan mencapai Rp720,02 miliar. Skala pelaksanaan yang besar tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan pangan dan jasa pendukung di daerah.
“Peluang ekonomi dari program MBG akan semakin optimal apabila kebutuhan bahan baku dipenuhi langsung oleh petani, nelayan, peternak, koperasi, dan UMKM lokal di Sultra,” ujarnya.
Iman Widhiyanto mengungkapkan bahwa integrasi antara pemasok lokal dan SPPG dinilai mampu memperpendek rantai pasok, memberikan kepastian pasar, sekaligus menjaga perputaran roda ekonomi daerah.
“Untuk itu, pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan pengelola SPPG perlu memfasilitasi pemetaan kebutuhan, standardisasi mutu, kontrak pasokan, jadwal pengiriman, serta mekanisme pembayaran yang jelas,” ungkap Iman Widhiyanto.
Kendati demikian, ia menyoroti ketersediaan dan stabilitas harga bahan baku yang masih menjadi tantangan mendasar, khususnya pada komoditas buah, sayur, minyak goreng, dan gas LPG.
Selain itu, aspek keamanan pangan dan kualitas layanan harus diperkuat melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP), pemenuhan sertifikat laik higienis dan sanitasi, ketersediaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), pengawasan bahan baku, proses pengolahan yang higienis, hingga pengujian mutu secara berkala.
Dari sisi distribusi, tantangan geografis masih membayangi wilayah kepulauan dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) di Sultra, seperti di Kabupaten Wakatobi, Konawe Kepulauan, dan Buton Selatan.
Faktor cuaca buruk, keterbatasan rute transportasi, pasokan gas, hingga keterlambatan pemasok berpotensi mengganggu kelancaran pengiriman bahan baku maupun distribusi makanan ke sekolah-sekolah.
“Program MBG di Sultra terus menunjukkan perannya dalam memenuhi kebutuhan gizi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Tantangan produksi dan distribusi ini menjadi perhatian bersama agar program dapat berjalan optimal dan manfaatnya dirasakan hingga ke wilayah kepulauan dan daerah terpencil,” tambah Iman Widhiyanto.(ds/Ono)